Matinya Dinamika Kampus

Gerakan mahasiswa berhasil memposisikan dirinya sebagai sebuah entitas penggerak yang sangat fundamental dan signifikan dalam menentukan kepemimpinan di negeri ini. Tidak sedikit peristiwa sejarah tercatat, melalui kekuatan intelektualnya, mahasiswa pada tahun 1965, 1974, dan 1998 berhasil membangun gerakan yang revolusioner. Gerakan angkatan 65 misalnya, Lafran Pane, Sulastomo, Soe Hoe Gie dan kawan-kawan berhasil menumbangkan rezim orde lama yang dianggap lebih pro terhadap PKI dan tidak mampu mensejahterakan rakyat. Sementara, gerakan 74, Hariman Siregar dkk melakukan aksi besar-besaran menolak dominasi modal asing (Jepang) di Indonesia yang dianggap dapat mematikan usaha kecil dan menengah. Sekian lama setelahnya, pada tahun 1998 gerakan mahasiswa yang juga didukung seluruh elemen masyarakat dapat menjatuhkan Presiden Soeharto yang sudah 32 tahun memimpin negeri ini dengan kebijakan otoritariannya. Inilah bukti kebesaran sejarah mahasiswa melalui basis intelektualitas profetik.

Arus Balik

Sekarang, kehidupan kampus jarang sekali ditemukan gerakan kultural mahasiswa sebagai basis Idiologisasi. Di Unsera misalnya, tak sedikit aktifis kampus malah terjebak ke dalam berbagai rutinitas program seremonial demi adanya sebuah eksistensi organisasi.
Kultur seperti ini dalam bahasa Kuntowijoyo – persemaian nilai – nilai internal ke dalam kondisi objektif - seolah tak ada yang membedakan organisasi mahasiswa dengan event organizer. Dilengkapi dengan sikap feodalisme kedaerahan, rasa takut, cenderung entertaint dengan dalil simbol organisasi (Kaos dan PDH ormawa). Alhasil, organisasi mahasiswa sebagai insfrastruktur wahana minat bakat dan pengembangan ilmu pengetahuan mengalami stagnasi pemikiran dialektis yang kritis progresif. Selain stagnasi pemikiran, melihat minimnya minat masyarakat kampus dalam berorganisasi, penulis melihat ada indikasi bahwa organisasi kampus sudah tidak dapat menjawab kebutuhan masyarakat kampus. Musababnya, pemerintahan kampus juga tidak memberikan satu konsepsi dan solusi dalam membangun kehidupan kampus yang dinamis. Presiden Mahasiswa, Dewan Mahasiswa, hingga Ketua Himpunan setingkat jurusan terbuai dengan struktural sesat ! Dan dianggap tidak layak untuk menjadi wakil masyarakat kampus.

Persoalan persoalan matinya dinamika kampus sebagai basis pemikiran, maka dirasa perlu untuk melakukan pembaharuan pemikiran yang modernis dengan melepaskan diri dari nilai-nilai tradisional yang cenderung membelenggu, serta mencari nilai – nilai yang berorientasi pada masa depan kehidupan yang dinamis.

Berangkat dari itu, mandegnya dinamika kampus, seharusnya dapat diselesaikan dengan adanya sebuah keterbukaan dialog yang dilaksanakan secara masif dari semua komponen masyarakat kampus. Baik organasasi intra ataupun organisasi ekstra. Agar budaya intelektual tumbuh kembali dalam lingkunagan kehidupan kampus. Dengan melalui dialog ini, maka diperlukan adanya sikap Inklusifitas dari masyarakat kampus. Tidak konservatif, menghargai pemikiran-pemikiran orang lain, serta melalukan suatu rekayasa kebudayaan sebagai pilar dalam menghidupkan kembali semangat literasi. Bahkan yang terpenting, meruntuhkan kesadaran yang masih sebatas pada kesadaran naif dan kesadaran gerakan intelektual hanya ada dalam dunia ide onani pemikiran.

Kini, kita tak lagi dihadapkan dengan kondisi yang besar, mahasiswa persis berada di ujung gading, ini adalah kritik bersama yang merupakan satu bentuk upaya untuk melakukan gerakan pembaharuan dalam menghadapi persoalan stagnasi pemikiran yang melanda dunia kampus. Semoga kita semua akan tercerahkan.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel