Gerakan Islam Radikal di Indonesia Melemah sejak ISIS Melemah

Sekali lagi kalau artikel ini benar maka kita menjadi tahu bahwa ini adalah " semuanya tentang uang".
Mereka tak peduli siapa yang dibunuh, agamanya apa, sukunya apa.  
Jadi mari cerdas, cermati tulisan ini dan lihat di Indonesia sini siapa yg pernah membela ISIS atau mengatakan bahwa ISIS adalah saudara.
=============>>>>

Gerakan Islam Radikal di Indonesia Melemah sejak ISIS Melemah
Saya punya teman di Kiev. Dalam dirinya ada darah Mongolia dan Korea. Wajahnya memang tidak seperti orang Asia Tengah. Usianya menjelang 40 tahun. Di Kiev dia punya bisnis properti. Punya koneksi kuat dengan elite kekuasaan.  Sebagai wanita dia memang tangguh. Apalagi bisnis di Ukraina yang masih sarat dengan KKN dan melibatkan jaringan mantan KGB yang bisa menghalalkan segala cara.
Selama saya di Kiev dia membantu saya deal dengan beberapa pejabat mendapatkan konsesi bangun block City di kawasan di pinggir sungai Dniever. Proyek itu akhirnya melibatkan konsorsium dari China. Ketika saya kasih komisi dia menolak halus. “ Menjadi sabahat kamu itu udah lebih baik bagi saya” Katanya berdiplomasi.
***
Suatu waktu di awal 2014, seorang relasi saya di Dubai menghubungi saya, dia minta bantuan untuk mendapatkan akses pengambilalihan pabrik senjata di Ukraina. Dia menghubungi saya karena dia tahu saya punya banyak koneksi di Ukraina. Memang banyak pabrik senjata warisan Uni Soviet di Ukraina yang terbengkalai karena tidak ada modal dan memang tidak ada lagi pasar.

Tadinya pabrik itu berdiri untuk mensuplai kebutuhan dalam negeri Uni Soviet. Saya tidak serta-merta menerima tawaran itu sebelum saya tahu siapa yang akan membeli pabrik senjata itu. Dia meminta saya datang ke Dubai yang akan diperkenalkan dengan seseorang.
Ketika bertemu, saya tahu pasti siapa pria di hadapan saya itu. Dia tidak menggunakan pakaian tradisional arab. Dia mengenakan setelan mewah. Raut wajah keras namun tampan.  Bahasa Inggeris British banget. Dia memang punya kharisma. Pria di hadapan saya itu menceritakan bahwa dia dapat SPK suplai senjata dari Menteri Luar negeri Arab Pangeran Saud al-Faisal. Dia juga cerita kedekatannya dengan Pangeran Abdul Rahman al-Faisal dan Pangeran Turki al-Faisal. Namun dia tidak menjelaskan kemana senjata itu akan dikirim.
Dari cara bisnisnya saya tahu pasti bahwa saya sedang berhadapan dengan dunia inteligen tingkat tinggi. Makanya dalam pertemuan itu saya hanya memberikan nama kontak saya di Kiev yang mungkin bisa mereka manfaatkan. Saya menolak untuk ambil bagian dalam bisnis ini. Alasannya bahwa saya tidak berpengalaman.
Agustus 2014 saya bertemu dengan dia ketika business trip ke Bangkok. Dia berterima kasih karena telah mengenalkan dengan seorang yang membuat dia kaya raya. Menurut ceritanya pabrik itu dibeli pengusaha dari Arab saudi. Namanya Al Waleed bin Talal. Tapi pembelian melalui SPC yang terdaftar di Isle of Man. Uang pembelian pabrik itu dari rekening offshore. Selanjutnya pabrik itu kembali dioperasikan. Senjata berat diterbangkan ke Bandara militer Turki, lalu MIT (Turki Secret Service) meneruskannya dengan kereta api khusus untuk ISIS.
Tampaknya tidak mungkin pasokan senjata tersebut bisa dilakukan tanpa melibatkan NATO. Itulah konspirasi membuat ISIS exist dan berperan significant menggoyang pemerintah Irak dan Suriah. Katanya.
“ Tapi “ lanjutnya, “ Baru saya ketahui bahwa pabrik senjata itu di beli oleh Talal berkerja sama dengan perwira mantan KGB, yang juga adalah Putin Connection. Mungkin ini cara Rusia ambil bagian di Syuriah di samping untuk kepentingan geostrategis juga mendapatkan keuntungan dari penjualan senjata melalui pabriknya di Ukraina dan Arab Saudi sebagai mesin uang mereka. Jadi apa pun konflik pasti berhubungan dengan bisnis dan itu ada uang yang mengalir. “ Sambungnya.
Ketika mendapat kabar dari media massa bahwa Pangeran Al Waleed bin Talal di tangkap karena kasus korupsi maka itu pasti berhubungan dengan keterlibatan AL Waleed dalam mendukung ISIS.
Bukan rahasia lagi bahwa Al Waleed adalah orang yang punya koneksi dengan Ormas Islam di Indonesia dan memberikan bantuan dana tidak sedikit. Ia juga berada di balik dukungan menjatuhkan Ahok. Baginya kekalahan Ahok juga pertanda bangkitnya Islam yang sesuai agendanya.
Ia sangat kaya. Tapi kekayaannya tidak didapat dari bisnis real tapi dari uang komisi atas proyek politik. Ia juga selalu meyakinkan pemerintah Arab Saudi bahwa ancaman kawasan timur tengah juga adalah ancaman dinasti AL Saud. Jadi Raja Arab harus mendukung setiap pembiayaan mengamankan kawasan. Kini semua permainannya sudah tamat. Dia harus mempertanggungjawabkan ulahnya.
Kini Arab Saudi sudah menjelma menadi negara CERDAS dan mau melihat kenyataan bahwa bermitra dengan negara komunis itu bagus, bermitra dengan orang non-Islam itu bagus, dan semua bagus selagi ada fulus untuk negara.
Agama? Ulama keras kepala diciduk dan dijebloskan ke penjara. Memeluk Xijinping dan Putin jauh lebih baik daripada bergaul dengan ulama keras kepala yang doyan minta donasi.
Sejak itu ISIS melemah dan gerakan Islam radikal di Indonesia juga melemah.
*** DDB

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel