GADIS TANPA LENGAN ITU DINIKAHI PUTRA ORANG KAYA



Seorang bayi wanita tanpa lengan telah lahir di Yogyakarta. Orangtua anak malang ini tidak menghendaki kehadiran anak yang cacat. Bayi mungil itu ditinggalkannya. Anak itu kemudian dirawat di sebuah yayasan sosial. 

Setelah usianya mencukupi, ia sekolah di Taman Kanak-kanak ABA Sukoharjo Purwomartani, Sleman, sebuah TK milik Muhammadiyah. Ia lalu masuk SD Muhammadiyah Sambisari, Sleman; kemudian SMP dan SMA Muhammadiyah di Surakarta. Karena tidak ada lengan, dia menulis menggunakan kaki. 

Di sekolah dia dipanggil Lina, di panti teman-temannya memanggilnya dengan Putri. Nama lengkapnya adalah Putri Herlina.

Sebab lokasi sekolahnya berada jauh dari ibu asuhnya, ia indekos di dekat sekolah. Dia mengurus sendiri segala keperluannya. Sesekali, Bu Naryo, ibu asuhnya, datang membawa keperluan putri.

Lulus SMA, Putri mengabdikan dirinya sebagai penerima tamu di Yayasan Sayap Ibu, Sleman, Yogyakarta. Ia mengurus keperluan sehari-hari adik-adiknya sesama anak-anak cacat yang disingkirkan orangtua mereka. 

Dia menyuapi, memandikan, dan mengganti popok adik-adiknya. Ia pun melakukan pekerjaaan-pekerjaan lainnya.

Pernah seorang tamu datang menawarinya untuk dibuatkan tangan palsu. Para pengurus panti mendukungnya, karena suatu saat mungkin ada pemuda yang tertarik kepada Putri. 

Hal ini akan membantu penampilan Putri.  Akan tetapi, anak ini menolak. Dia bilang, “Aku ingin suami yang mencintaiku apa adanya. Aku ingin suamiku tahu kekuranganku.”

Ibu Susiani Sunaryo, orangtua asuh Putri senantiasa mendukung apa  pun keinginan dan cita-cita anaknya ini.

 Bersama suaminya, Sunaryo, ibu ini menghabiskan waktunya mengurus anak-anak yang dibuang para orangtua mereka.

 Yayasan Sayap Ibu didirikan oleh Ibu Ciptaningsih Utaryo, istri Bung Tomo. Sampai sekarang, beliau dipercaya memimpin panti asuhan itu. 

Saptuari Sugiharto, seorang Creative SocialPreneur, demikian ia menyebut dirinya, bersama istrinya, sering datang ke panti dan  menjadi teman gadis ini. Dia merekam perjalanan Putri di blog pribadinya.

Saputri membimbing anak ini untuk banyak berdoa kepada Tuhan, antara lain, agar dipertemukan dengan pasangan hidup yang akan menyayanginya.

Pada usia 24 tahun, seorang pria ganteng menghampiri dan melamar Putri. Reza Somantri nama pemuda itu, atas restu kedua orangtua, mengajak Putri menikah.

 Reza putra seorang kaya. Ayahnya adalah mantan pejabat tinggi di Bank Indonesia. 

Menyaksikan pernikahan dengan pasangan pengantin tidak biasa ini, sejak akad hingga acara resepsi, para tamu merasa haru. Mereka tidak tahan menahan tetes-tetes air mata.

Saya sangat kagum pada Putri yang mandiri dan pencaya diri. Saya sangat bangga kepada Reza, pemuda tampan, anak orang berada, yang dengan keteguhan hati meminang seorang gadis tanpa lengan yang hidup di panti asuhan.

 Saya pun sangat hormat kepada kedua orangtua Reza yang telah merestui anaknya menikahi Putri. Ini pasti sangat tidak mudah bagi ayah dan ibu Reza.

Dengarkan apa yang dibisikan ibunda tercinta saat sang anak melakukan sungkeman:

“Wahai anakku, engkaulah lelaki itu. Engkaulah yang dipilih Allah untuk menemani wanita luar biasa ini! Engkaulah yang Allah percaya duduk, berdiri, berjalan di sampingnya. Selamanya! Jadikan ini sebagai ibadahmu, pahala tak berkesudahan hingga akhir hayatmu…!”

Jakarta, 29 Oktober

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel