Suara perdamaian: merekatkan kembali yang sempat tersekat

berdamai setelah pemilu

Editorial Media Indonesia Edisi 10 Mei 2017, mengulas topik yang hampir serupa dengan ini. Tujuannya guna mengajak anak bangsa ini untuk bersatu kembali setelah kurang lebih, selama enam bulan, masyarakat Jakarta bahkan Indonesia, terpolarisasi dalam kelompok pro dan kontra terhadap Ahok. Polarisasi ini sekaligus menciptakan sekat diantara kita.  Ajakan yang sungguh menyejukkan hati dan suasana, agar kita sebagai bangsa yang berhukum dalam naungan Pancasila, jangan lagi terpisah dalam ruang-ruang perbedaan Suku, Agama, Ras dan Antar golongan (Sara) yang justru menimbulkan disintegrasi bangsa. Semua menyingsingkan lengan baju, lantangkan suara untuk membangun Indonesia, bukan justru memporak-porandakannya dengan ego sektoral hanya untuk memuaskan nafsu politik segelintir elit. Rakyat yang awam dimanfaatkan, tetapi mereka tidak tahu bahwa dengan jalan itu, bak sedang menyulut api pada padang rumput kering, dan sebentar lagi, akan membara ke seluruh penjuru, menghanguskan segalanya, termasuk mereka sendiri. Sebagai manusia yang berakal budi, kita seharusnya bijaksana dalam memilah, mana kepentingan bangsa, dan mana nafsu politik sesaat. Mana kebanaran hakiki, mana kepalsuan yang dibenarkan. 

Setelah Ahok divonis 2 tahun penjara, tampak jelas ada yang bahagia merayakan “kemenangan”, ada pula yang menangisi “kekalahan”. Itulah hukum dunia, tidak pernah ada yang namanya keseimbangan dan keadilan. Sebab, yang menang pun belum tentu puas. Apa lagi yang kalah. Hal itu tercermin dalam pernyataan kelompok yang kontra terhadap Ahok. Menurut mereka, seharusnya Ahok dipenjara 5 tahun, bukan hanya 2 tahun. 

Itulah sebabnya, para pencari keadilan mengatakan, “di dunia ini, tidak pernah ada yang namanya keadilan, karena manusia membangun persepsi terhadap keadilan menuruti cara pandangnya masing-masing, sekalipun itu atas nama hukum yang dilegalkan negara”. Ini terbukti, jaksa dan hakim yang menuntut Ahok, berbeda pendapat, sekalipun gunakan hukum sebagai dasar pengambilan keputusan. Jaksa tuntut Ahok 1 tahun penjara, sementara hakim tuntut dua tahun penjara. Oleh sebab itu, mencari keadilan di dunia, adalah usaha yang sia-sia. Kendatipun demikian, karena Negara ini Negara hukum, maka wajib juga hukumnya kita taati setiap ketetapan hukum. Jika ada yang tidak terima, silahkan selesaikan melalui jalur hukum pula. Berhentilah menghujat, memaki dan merendahkan sesama. Karena mereka yang bukan saudaramu dalam iman, adalah saudaramu dalam kemanusiaan. 

Bila dalam beberapa waktu terakhir kita ceraikan oleh ego pribadi, diceraikan oleh nafsu politik kotor para elit. Itu artinya, kita terlalu banyak dan lama membuang energi positif untuk hal-hal yang negatif. Kita terlalu sibuk mengacungkan jari untuk menghakimi kesalahan sesama dengan cara yang salah, meluruskan yang tidak etis, tetapi dengan cara yang tidak etis juga. Kita terlalu cepat melihat debu di mata sesama, tetapi balok di mata sendiri, kita tidak melihatnya. 

Kini saatnya berdamai dan merekatkan kembali yang tersekat. Merajut kembali perasaan yang sempat terluka. Inilah waktunya untuk hematkan tenaga dan ide untuk membangun, bukan meruntuhkan. Mempersatukan, bukan mencerai-beraikan. Merangkul, bukan menendang. Mengasihi bukan memusuhi. Menerima bukan menolak perbedaan. Mendekatkan, bukan menjauhkan. Merajut, bukan memisahkan. Menyambungkan yang terputus, bukan memisahkan yang tersambung. Menyapa, bukan memaki. Menghargai, bukan merendahkan. Merajut kasih, bukan menebar kebencian. Indonesia dilahirkan atas perjuangan semua anak bangsa. Mereka berjuang bersama atas nama cinta dan masa depan kita sekarang, tanpa memandang suku, ras dan agama. 

Tentu tidak ada satu orang di negeri ini yang ingin Indonesia terporak-poranda seperti Negara Suriah karena perang saudara. Wanita dan anak-anak menjadi korban pembantaian massal. Warga tidur dalam kegelisahan dan kekhawatiran yang mendalam. Kalau kita tidak mau rakyat Indonesia jadi seperti rakyat Suriah yang hanya selalu dihantui perasaan, kapan leher mereka digorok oleh pedang tentara pemerontak, kapan rumah mereka dibom oleh basoka, maka sudah sepatutnya kita merajut Pancasila dan UUD 1945 sebagai dasar perekat bangsa yang besar ini. Kita kembali menganyam tali kasih dan persaudaraan demi NKRI dan masa depan anak-anak kita yang masih kecil, yang bahkan mereka belum mengerti mengapa Ahok dipenjara, dan untuk apa orang-orang begitu RASIS dan beringas turun ke jalan dan mengumpat, memaki, merendahkan dan mengadu domba sesama anak bangsa ini atas nama gerakkan bela akidah, namun dibangun berdasarkan intepretasi pribadi yang keliru, kemudian dibungkus dengan ayat-ayat suci untuk membenarkan diri. 

Ahok dipenjara, artinya, hukum sudah ditegakkan, sekalipun ada yang kurang puas, sikap pasrah dan kelapangan dada, niscaya kita lakoni. Ini saatnya kita robohkan kembali sekat-sekat diantara kita yang selama enam bulan itu dibangun secara subjektif guna mempertahankan kebenaran menurut pandangan masing-masing. Pandangan yang tercipta dari perdedaan tafsiran ayat-ayat suci demi membela suku, ras dan agama masing-masing. Bukan soal mereka salah dan kami benar, tetapi ini untuk Indonesia dan masa depan anak bangsa ini. Negara Kesatuan dan persatuan yang telah disulam oleh para pendahulu kita, yang diberi nama “NKRI” yang dasari oleh Pancasila serta UUD 1945. NKRI yang terdiri dari ribuan suku dan bahasa, enam agama yana beribadah menurut suara kesucian mereka masing-masing, direkat menjadi satu Indonesia yang terbentang dari Aceh sampai Papua, dari Miangas hingga Pulau Rote. Tidak ada kata, “lu Islam, gue Kristen. Kami Hindu, kalian Budha. Kita Katholik, mereka Kong hu chu”. Lu hitam, gue putih, kalian kriting, kami lurus. Ini adalah Indonesia, NKRI, yang tercipta dan berdiri tanpa sekat dalam bingkai Bhineka Tunggal Ika. 

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel