Romantisme di era digital

Revolusi digital, telah terjadi sejak 1980-an hingga sekarang. Dimana teknologi mekanik dan teknologi analog dirubah menjadi teknologi digital. Teknologi digital adalah teknologi yang menggunakan sistem elektronik computer untuk memanipulasi data yang cepat dan tepat serta dirancang dan diorganisasikan supaya secara otomatis menerima dan menyimpan data, memprosesnya dan kemudian menghasilkan sesuatu (output) di bawah pengawasan suatu langkah instruksi-instruksi program dan tersimpan di memory (stroge program). Perubahan ini tidak hanya membawa berkah, tetapi juga kutuk bila salah memanfaatkannya. 
Berkat elektronik digital itu ditunjukkan dengan adanya kemudahan dalam segala hal untuk membantu mobilisasi penduduk dunia, sehingga dunia ini ibarat ada di ujung jari. Apapun yang kamu ingin tahu di belahan benua lain, tinggal klik, semua terbuka, real, tanpa terbatasi oleh ruang dan waktu. Kejadian yang terjadi di Amerika, saat itu juga, orang di benua lain dapat melihatnya. Setiap perubahan, pasti berdampak pada cara atau metode orang bergaul. Tidak ada seorangpun yang bisa menolak perubahan, kecuali menghindarinya. Hanya ada dua pilihan, berubah atau mati. Perubahan ini hingga menyentuh ranah-ranah kehidupan “romantisme” manusia di seluruh dunia. 
Beberapa perbedaan romantisme sekarang dengan romantisme yang dulu. Dahulu untuk menelepon pacar, harus menggunakan Warung Telepon (Wartel), tetapi sekarang pakai handphone. Dahulu, kirim salam via radio dan telegram, sekarang kirim salam, hanya dengan mengupdate status di jejaring social. Dahulu, hadiah ulang tahun adalah kue dan bunga, sekarang, ditambah dengan hp, laptop dan bahkan mobil mewah. Dulu, foto ditempel didinding agar tampak berdua, tetapi sekarang, cukup hanya selfie berdua. Dahulu berkirim surat, namun sekarang langsung lewat pesan instan melaui sms, WA, BBM dan lain-lain. 
Bila dahulu sepasang suami istri masuk pusat perbelanjaan dengan bergandengan tangan, sekarang mereka bergandengan tangan dengan gadget (HP) masing-masing. Dahulu, café-café ramai karena banyak orang duduk, ngopi sambil bercerita, namun sekarang, meskipun banyak pengunjung, suasana café menjadi lebih hening, karena masing-masing orang tunduk menatap layar hpnya sendiri. Bila dahulu, pertemuan sepasang kekasih, penuh dengan romantisme, sekarang berbeda, malah masing-masing “romantis” dengan teman-teman mereka yang ada di jejaring social atau dunia maya. Dahulu, orang sangat mudah mengindetifikasi tanda-tanda Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ), tetapi sekarang sangat sulit membedakan ODGJ dengan orang waras, sebab orang waras pun, biasa senyum-senyum sendiri dengan hp nya sendiri. 
Dahulu orangtua mancarikan jodoh untuk anak-anak mereka, sekarang, cari jodoh, sangat mudah, karena bisa dilakukan melalui Biro Jodoh Online. Meski begitu, masih saja, ada yang tidak dapat jodoh, karena saking banyaknya pilihan di jejaring sosial, sehingga bingung memilih. 

Rasa Peduli dan Kebersamaan yang Terhilang

Sekarang, orang bisa berjam-jam tunduk, menatap layar hp sambil “mengobrol” dengan temannya via jejaring social, namun berjam-jam duduk dan bercerita di dunia nyata adalah hal yang cukup, membosankan. Beberapa penelitian membuktikan bahwa, penggunaan gadget secara tidak bijak, telah merenggut rasa kepedulian seseorang terhadap dunia sekitar, bahkan dirinya sendiri. Mengemudi sambil bermain HP. Di beberapa tempat, ada orang yang rela tidak makan, karena asik mengirim pesan dengan teman-temannya lewat jejaring social. Berjalan menyeberang jalan sambil kepala tertunduk main game di smart phone (HP Pintar), karena itu, tidak jarang tertabrak kendaraan. 
Selain itu, istilah yang popular bagi pengguna smart phone adalah, “HP membuat yang jauh jadi dekat, dan yang dekat, jadi jauh”. Ini adalah fakta. Kita tidak jarang menemukan sekelompok orang yang sedang duduk sama-sama, tetapi asik bermain smart phone mereka masing-masing. Sepasang kekasih di restorant dan café-café, sedang makan sama-sama, tetapi masing-masing dengan HP-nya. Orang tidak peduli dengan keadaan sekelilingnya, dan lebih memilih peduli dengan teman-temannya di jejaring social yang ada di tempat lain. Tidak menegur orang yang di samping, malah mengirim pesan dengan orang yang di tempat yang jauh. 
Karena itu, kebersamaan diantara kita pun mulai terkikis. Yang ada hanyalah kebersamaan semu belaka. Misalnya, dahulu, sepasang suami istri bercerita diruang tamu, saling menatap wajah satu dengan yang lain, sekarang, mereka bercerita sambil si suami menatap gambar wajah teman-teman wanitanya di Facebook, sementara sang istri, juga cerita sambil menatap foto wajah teman-teman prianya di BBM atau Instagram. Dalam kenyataan, mereka bersama, tetapi pikiran dan perhatian mereka sedang tertuju kepada hal-hal yang ada di jejaring social. Itulah romantisme di era digital. 

Teknologi Informasi dan Kelalaian Kita

Kehadiran Teknologi Informasi sejatinya untuk memudahkan kita dalam beraktivitas. Contoh, HP dan internet untuk memudahkan komunikasi antara kita. Facebook dan Twitter untuk menghubungkan kita dengan teman kita dimana pun berada. Misalnya, salah satu jargon Facebook adalah, “we connected you to your Friends”. 
Kendatipun demikian, ibarat pedang bermata dua, teknologi informasi pun dapat berguna bagi kehidupan manusia, namun dapat juga menghancurkan hidup kita, bila kita tidak bijak dalam menggunakannya. Beberapa fakta Romantisme di era digital sebagaimana disebutkan di atas, adalah salah satu contoh pemanfaatan teknologi informasi yang salah dan dapat merusak kehidupan manusia. Seperti, menggunakan HP dan Internet untuk menyebarkan fitnah, kampanye hitam dan kebencian di Twitter atau Facebook. 
Hal lain yang paling mengkhawatirkan saat ini adalah, orang-orang menjadi kecanduan gadget. Kehidupan social anak-anak generasi bangsa ini dibiarkan dirampas oleh gadget. Hal inilah yang mengancam  kehidupan social kita baik orang dewasa maupun anak-anak. Memang ini keadaan yang cukup dilematis, kalau tidak menggunakan teknologi informasi, akan merasa tertinggal, tetapi menggunakan teknologi informasi secara tidak bijaksana, akan merusak kehidupan masa depan kita. Karena itu, kalau lalai dalam memanfaatkan, maka perkembangan teknologi informasi akan menjadi mata pedang yang dapat melukai pemiliknya sendiri.

________________________________________  
KONTRIBUTOR/PENULIS: Sdr. Elkana Goro Leba, MPA. Artikel ini disesuaikan dari berbagai sumber, Mohon maaf bila ada kesalahan pengutipan atau informasi yang kurang tepat karena "TIADA GADING YANG TIDAK RETAK"Terima kasih, karena sudah mampir. Salam!
JANGAN LUPA TINGGALKAN KOMENTAR DI BAWAH.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel