Bangkit dari kematian hati nurani


Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) adalah tonggak sejarah perjuangan bangsa Indonesia untuk mencapai gerbang kemerdekaan yang dimulai sejak 1908, atau bahkan jauh sebelum itu. Dua peristiwa besar yang menandai Harkitnas adalah lahirnya Organisasi Boedi Oetomo tanggal 20 Mei 1908 dan ditegaskan lagi oleh kongres Pemuda yang melahirkan Soempah Pemoeda tanggal 28 Oktober 1928. Harkitnas pada masa penjajahan diilhami sebagai tanda bersatunya anak bangsa ini untuk melawan penjajahan bangsa asing. Momentum itulah yang diyakini sebagai embrio para pejuang untuk mencapai kemerdekaan. 
Di sisi lain, Harkitnas adalah gerakkan yang menggugah rasa kebangsaan dan cinta tanah air (nasionalisme). Cinta tanah air, berarti mencintai semua unsur yang ada di atas dan di bawah bumi Indonesia demi kesejahteraan bersama. Dari sudut pandang yang demikian, nasionalisme berkaitan dengan sikap seseorang yang menempatkan kepentingan pribadi dan kelompok di bawah kepentingan bangsa dan Negara, dan bukan sebaliknya. Kesejahteraan dan kemaslahatan rakyat menjadi rujukkan untuk bertindak.  Dengan demikian, maka Hari Kebangkitan Nasional sesungguhnya menjadi momentum untuk merefleksikan diri.

Era Kematian Hati Nurani
Suatu bangsa menjadi miskin, bukan karena kurangnya sumber daya alam, tetapi karena pemimpinnya yang tidak punya kepedulian terhadap kesusahan rakyatnya. Rakyat miskin, tertinggal, anak-anak gizi buruk dan putus sekolah, tetapi pemimpinnya asik dengan dunianya sendiri dalam kemewahan rumah dinas, mobil dinas, dan semua yang dinas-dinas. Jadi, ancaman terbesar bagi bangsa ini tidak hanya ormas-ormas radikal yang mengancam persatuan dan kesatuan bangsa, tetapi juga oknum pemimpin yang mati rasa. Yang merusak masa depan anak-anak bangsa ini, tidak hanya pengedar narkoba, namun juga oknum pemimpin dan oknum wakil rakyat yang mati rasa tadi, menjelma menjadi segerombolan tikus kantor di lumbung APBN dan atau APBD dan menggerogoti sampai habis. Akhirnya hak-hak rakyat dirampas oleh pemimpinnya sendiri. Sungguh sial nasib rakyat kita, mungkin karena ketika Pilkada dan Pileg, memilih bukan karena tulus, tetapi karena fulus. Rakyatnya miskin, namun oknum-oknum itu kaya dari kemiskinan rakyatnya. Rakyatnya putus sekolah, namun oknum-oknum itu pintar karena “membodohi” rakyatnya.
Oleh sebab itu, koruptor itu adalah manusia setengah edan yang hati nuraninya sudah mati. Bagaimana tidak, anak-anak di pelosok negeri ini sedang gizi buruk dan busung lapar, mereka masih saja menilep uang Negara untuk kepentingan pribadi. Rakyat tinggal di kolong-kolong jembatan dan meminta-minta di jalanan, sekolah-sekolah di pelosok desa hanya beratapkan alang-alang dan berlantaikan tanah, para guru berjuang sendirian untuk mencerdaskan anak-anak generasi bangsa ini, tetapi para koruptor sedang asik bermain rupiah di senayan, di kementrian dan di dinas-dinas untuk membangun kemakmuran pribadi dan kelompoknya. Para penguasa lebih memilih untuk membangun kantornya seperti istana raja, dari pada bangun sekolah bagi anak-anak di pelosok-pelosok. Dana ratusan miliar rupiah hanya untuk bangun kantor dan tamannya, dan mata hati tertutup untuk melihat anak-anak di TTS, TTU dan daerah lain yang belajar di sekolah seadanya. Rakyatnya menjadi korban penjualan orang ke negeri tetangga, para ibu menjadi korban buruknya pelayanan kesehatan persalinan di desa-desa, anak-anak gizi buruk dan busung lapar, namun di lain tempat, Pemdanya masih saja berleha-leha dengan membeli mobil dinas untuk para kepala dinas dan berpesta pora saat pelantikan bupati dengan uang rakyat ratusan juta. Desa-desa terisolir dan gelap gulita, karena tidak ada akses jalan dan listrik, tetapi pada saat yang sama, para penguasa malah lebih suka bangun jembatan antar pulau (mungkin untuk dikenang, karena sudah di akhir periode kepemimpinan). Benar-benar zaman ini zaman edan, yang dihuni oleh oknum pemimpin edan yang tidak punya hati nurani. 
Tanda-tanda orang-orang yang mati rasa dan tidak tahu malu itu adalah, ketika tertangkap korupsi, masih saja tampil di depan kamera bak artis Hollywood sambil angkat tangan, da.da.da.da. Sungguh, zaman ini, zaman edan!

Revolusi Mental: Era Kebangkitan Hati Nurani
Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas), wajib menjadi momentum untuk merefleksi diri agar menjadi lebih baik. Harkitnas ini tidak cukup hanya di panggung orasi dan sandiwara untuk naikan pamor politik agar terpilih kembali pada periode berikutnya. Seharusnya, bagi rakyat, Harkitnas tidak hanya berhenti pada kata-kata ucapan selamat, tetapi juga diwujudkan menjadi sebuah gerakkan untuk membakar semangat dan bertindak memperbaiki diri, agar tidak menjadi rakyat yang hanya manut-manut pada mulut manis para oknum pemimpin yang membodohi rakyatnya dengan berkamuflase menjadi malaikat di depan, tetapi iblis di belakang. Bagi para pemimpin, Harkitnas ini adalah momentum untuk mengevaluasi diri, sudah sejauh mana realisasi janji-janji politik Pilkada dan Pileg, agar janji, tidak tidak tinggal janji.
Alat perjuangan yang paling kontemporer untuk bangkit dari kematian hati nurani ini adalah mengaplikasikan revolusi mental secara nyata dan berkelanjutan. Sebab mental korup oknum pejabat dan juga oknum PNS di negeri ini, berkaitan erat dengan hilangnya rasa kemanusiaan dari dalam dada para pelayan publik. Gerakkan revolusi mental terhadap rakyat, termasuk seluruh pelayan publik (PNS - pejabat publik) di negeri ini diharapkan menjadi jalan menuju perubahan. 
Kebangkitan Nasional, berkaitan erat dengan tumbuh kembangnya rasa nasionalisme (cinta tanah air) dan daya juang untuk kemakmuran bersama. Saat ini, untuk mewujudkan rasa nasionalisme, tidak perlu memanggul senjata, seperti Bung Karno dan kawan-kawannya dulu. Karena kita bukan lagi melawan penjajahan bangsa asing, tetapi kita sedang “melawan bangsa sendiri”. Para aktivis korupsi sedang melawan oknum pejabat korup. KPK sedang “melawan” hak angket DPR yang sedang ketakutan ketahaun korupsi dana pembuatan E-KTP. Polri “melawan” KPK (cicak Vs buaya), penyidik KPK melawan koruptor. Sejarah perjalanan para mantan pimpinan KPK yang hampir semuanya digulingkan karena kesalahan yang direkayasa dan dicari-cari, membuktikan kepada kita, bahwa KPK (kita) sedang melawan bangsa sendiri, akibat dari mati rasa dan hati nurani. Ini akan lebih, sulit dari pada melawan penjajah. Inilah yang dikatakan Bung Karno, “perjuangan ku lebih mudah, karena melawan penjajah bangsa asing, tetapi perjuangan mu akan lebih sulit, karena melawan bangsa mu sendiri”. 
Para wakil kita seringkali hanya sibuk dengan urusan politik untuk merebut kursi ketua, dari pada urus rakyatnya yang sedang “lapar”. Jalan-jalan studi banding ke luar negeri dari pada kunjungi rakyatnya yang sedang menderita gizi buruk dan hidup dalam kemiskinan. Karena itu, membutuhkan perubahan mental untuk membangun bangsa ini. Kepekaan, kepedulian, pemimpin yang tidak hanya pakai otak, tetapi juga hati untuk melayani rakyatnya.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel