Pancasila dan Para Pengkhianatnya

Korupsi adalah Pemberontakan Terhadap Pancasila

Korupsi adalah Pemberontakan Terhadap Pancasila

Selamat hari Lahir Pancasila! Tanggal 1 Juni merupakan tanggal yang ditetapkan sebagai “Hari Lahir Pancasila”. Tanggal 1 Juni akan dijadikan hari libur nasional oleh Presiden Joko Widodo. Ini  adalah momen perenungan dan refleksi diri, sudahkah nilai-nilai Kebhinekaan menjadi keseharian kita? ataukah teks Pancasila masih sekedar ayat-ayat hafalan dan bahan retorika kosong para pejabat yang formalitas dan tanpa makna? Adalah keniscayaan bagi kita, Lima Asas itu menjadi sebuah realita hidup yang benar-benar BerTuhan, Bersatu, Beradab, Berhikmat dan Berkeadilan. Itulah pentingnya dari momen peringatan hari lahirnya Pancasila sebagai dasar hidup bernegara. Secara historis, NTT, khususnya Kabupaten Ende, Flores adalah bagian integral dari cikal bakal lahirnya Falsafah hidup Bangsa Indonesia, Pancasila – Sanskerta: pañca (lima) dan śīla (prinsip atau asas) – sebagai ideologi kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara bagi seluruh rakyat Indonesia yang yang terdiri dari banyak suku, agama, ras dan antar golongan. Sebagaimana terkandung dalam SK Pemerintahan Hindia Belanda tertanggal 28 Desember 1933, Bung Karno yang saat itu berusia 35 tahun bersama Isrtrinya Inggit Ganarsih, mertuanya Amsih dan kedua anaknya Ratna dan Kartika diasingkan sebagai tahanan politik ke Ende Flores, NTT dari 14 Januari 1934 hinggga 18 Oktober 1938. Dalam buku Egy Massadiah, dkk., berjudul “Bung Karno Ata Ende” (Bung Karno Orang Ende), disebutkan bahwa Desa (kecil) Ende Flores adalah bagian integral dari sejarah lahirnya falsafah Pancasila. Di bawah pohon Sukun yang posisinya menghadap ke laut, Sang Proklamator merenung untuk merumuskan falsafah Pancasila. Itulah sebabnya, setiap tanggal 1 Juni, di Kota Ende, selalu ada upacara untuk memperingati hari lahirnya Pancasila dan tanggal 1 Oktober sebagai hari Kesaktian Pancasila. Di tempat itu, masih terdapat Rumah Pengasingan Bung Karno. Itu menandakan, di dalam Pancasila, ada nilai-nilai Keindonesiaan yang melampaui batas-batas wilayah, suku, agama, ras dan antar golongan. Pancasila sudah melewati berbagai fase kritis oleh karena berbagai pengkhianatan yang mencoba “menggulingkannya”, namun hingga kini, kesaktian Pancasila yang kita rayakan setiap tanggal 1 Oktober masih jaya menjadi falsafah hidup bangsa ini.

Koruptor, Ormas Radikal adalah Pengkhianat Pancasila

Pada awal kemerdekaan hingga orde baru, pengkhianatan terhadap Pancasila, muncul dalam gerakkan-gerakkan seperti Peristiwa Madiun tahun 1948 yang hendak menjadikan RI sebagai Negara Komunis, Pemberontakan Angkatan Perang Ratu Adil (APRA) yang juga dikenal dengan “Peristiwa Kudeta 23 Januari 1950” yang bermaksud mengkudeta presiden Soekarno dan membunuh semua orang berseragam TNI yang mereka temui, Peristiwa Andi Aziz di Ujung Pandang 5 April tahun 1950 yang salah satu tujuannya guna membantuk Negara Indonesia Timur, Gerakkan RMS tahun 1950 yang ingin membentuk Republik Maluku Selatan,  pemberontakan DI/TII tahun 1949 untuk mendirikan Negara teokrasi berdasarkan agama dan hukum Islam, Pemberontakan PERMESTA di Sulawesi tahun 1957 yang muncul karena beberapa orang merasa diperlakukan tidak adil oleh pemerintah pusat, dan paling terkenal adalah pemberintakan Partai komunis Indonesia yang popular dengan Gerakkan 30 September  Partai Komunis Indonesia tahun 1965. Itu beberapa pengkhiantan terdahulu yang merongrong Pancasila.

Pada era refomasi ini, bentuk pengkhianatan seperti tersebut di atas jarang kita temukan, meskipun masih ada pemberontakan seperti Organisasi Papua Merdeka (OPM) dan jaringan terorisme pimpinan Santoso di Sulawesi. Pengkhianat yang paling massif dan berbahaya terhadap Pancasila saat ini adalah para koruptor. Korupsi sangat berbahaya karena pertama, korupsi adalah perbuatan munafik dan tidak berkeTuhanan (melawan sila pertama). Kelakuan para koruptor di Indonesia memang sulit diterka. Sebab, oknum pejabat publik dan oknum anggota dewan yang korupsi adalah mereka yang agamais, santun, ramah, berlaku alim di depan umum, pintar beretorika tetapi bermental korup. Itulah ciri-ciri pengkhianat, mencium dari depan, tetapi menikam dari belakang. Sikap mereka menunjukkan orang beragama, tetapi tidak berTuhan. Karena Tuhan membenci orang yang memalak hak orang lain dan memperkaya diri dari yang bukan haknya. Yang kedua, koruptor itu adalah manusia tidak berperikemanusiaan dan tidak beradab (berkhianat terhadap sila kedua). “Tidak beradab” sama maknanya dengan “biadab”. Dalam KBBI, “biadab” artinya, “kurang ajar dan kejam”. Benarlah adanya, perbuatan para koruptor adalah perbuatan yang sangat kurang ajar dan kejam, sebab mereka mencuri uang Negara. Ketiga, tindakan korupsi dapat menimbulkan kesenjangan dan disintegrasi (kontradiksi dengan sila ketiga). Semua orang sudah paham, bahwa korupsi itu memperkaya diri dan memalak hak-hak orang kecil. Akhirnya, yang kaya para koruptornya, orang kecil tetap miskin. Maka timbullah kesejangan social. Dari kesenjangan itu, muncul perasaan tidak puas karena merasa diperlakukan tidak adil, maka timbullah disintegrasi bangsa. Ingin mendirikan Negara dan mengusahakan kesejahteraan sendiri, seperti isu kemerdekaan Papua. Ada yang bilang, pemerintah pusat hanya mengaeruk isi bumi Papua, tetapi masih banyak masyarakat Papua yang hidup dalam kemiskinan dan keterbelakangan. Keempat, tidak berhikmat (menentang sila keempat). Hikmat adalah pola pikir yang bersumber dari logika dan diimbangi dengan hati. Artinya, dalam mengambil keputusan apapun, orang berhikmat selalu ada keseimbangan antara otak/logika dan hati/perasaan. Korupsi adalah tindakan manusia yang tidak menggunakan perasaan (mungkin hanya menggunakan logika). Sehingga hanya berpikir untuk memperkaya diri, tetapi tidak memikirkan orang lain yang sedang susah dalam kehidupannya. Kelima, korupsi adalah perbuatan yang tidak berkadilan (bertentangan dengan sila kelima). Sudah sangat jelas, bahwa koruptor mencuri dan menilap uang Negara untuk kepentingan pribadi adalah perbuatan yang tidak adil. Mereka menikmati hidup yang lebih baik dari “hasil curian”, mengambil keputusan yang hanya menguntungkan kelompok dan golongan tertentu saja, sementara rakyat kecil, mencari makan sehari-hari saja susah. Selain korupsi, paham-paham radikalisme yang sedang massif saat ini juga, secara gamblang bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila. Sebab pancasila menjunjung tinggi perbedaan suku, agama, ras dan antara golongan (SARA), sedang paham radikal adalah sebaliknya.  Pengkhianatan itu muncul melalui ormas-ormas radikal. Bukan lagi dengan perang terbuka secara frontal dengan mengangkat senjata seperti dulu, tetapi perang ideologi melalui komunitas-komunitas “pencuci otak”, lewat ayat-ayat suci.

PKI” Saat ini!

Dahulu Pancasila terusik oleh PKI (Partai Komunis Indonesia), namun sekarang Pancasila  terancam oleh PKI (Para Koruptor Indonesia). PKI-PKI itu meruntuhkan nilai-nilai keadilan dan musyawarah. Mereka hanya “bermusyawarah” hanya untuk kepentingan partai, kelompok, golongan dan kroni-kroni mereka. Bukan bermusyawarah untuk membangun bangsa ini menjadi bangsa yang maju, justru menjadi bangsa yang korup. Bung Karno, dkk menitipkan bangsa ini untuk dikelola demi kesejahtaraan dan kemakmuran bersama, namun justru dijarah oleh para “PKI-PKI” itu.  Para istri pejabat membangun “persatuan” mereka sendiri. Melancong ke luar negeri atas nama “Wisata untuk promosi budaya lokal”. Para wakil rakyat berfoya-foya dengan mobil dan rumah dinas mewah dan kantor elit, sedang rakyat tidur di kolong jembatan. Sungguh, perbuatan seperti itu telah melanggar UUD 1945 dan pendangkalan terhadap nilai-nilai luhur Pancasila sebagai konstitusi dan dasar Negara serta segala sumber hukum.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel