Harkitnas: Bangkit Melalui Komunitas

Komunitas merupakan perkumpulan orang yang hidup berinteraksi dan membutuhkan. Pada umunmya, komunitas tidak wajib mempunyai stuktur dan hierarki seperti halnya organisasi. Anggota-anggota komunitas biasanya terdiri dari orang-orang yang merasa “senasib dan seperjuangan”. Misalnya, mempunyai profesi, minat, bakat, hobi yang sama, seperti komunitas sastra, komunitas seni, komunitas penulis, pelukis, komunitas Motor. Komunitas lainnya berdasarkan tujuan, visi misi, dan asal-usul yang sama seperti komunitas orang NTT, Komunitas orang Sulawesi, Komunitas orang Batak dan sebagainya. Dari komunitas, dapat melahirkan sebuah organisasi yang mana lebih terorganisir, terstruktur, mempunyai hierarki dan jalur koordinasi serta pembagian tugas dan wewenang yang lebih jelas.
Salah satu organisasi yang di dalamnya terdiri dari orang-orang yang mempunyai tujuan dan misi yang sama adalah “Boedi Oetomo” yang terbentuk pada tanggal 20 Mei 1908. Berdirinya Budi Utomo menjadi awal gerakan nasionalisme untuk mencapai kemerdekaan Indonesia. Ini merupakan sebuah organisasi pemuda pada zaman penjajahan yang bersifat sosial, ekonomi, dan kebudayaan (bukan organisasi politik) yang digagaskan oleh Dr. Wahidin Sudirohusodo dan para mahasiswa Stovia yaitu Goenawan Mangoenkoesoemo dan Soeraji. Itulah tonggak sejarah peringatan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas). Namun jauh sebelum 20 Mei 1908 organisasi “Budi Utomo” sudah tumbuh sebagai sebuah “komunitas” orang-orang atau para pemuda yang merasa “senasib seperjuangan” yakni berjuang untuk mengusir penjajah dari Pertiwi Indonesia.

Bukan Komunitas Ecek-ecek
Bicara komunitas, ada banyak macam dan bentuk serta tujuannya, termasuk komunitas jahat. Tetapi, bila untuk kebutuhan pembangunan, tentu saja komunitas yang baik. Namun, komunitas yang baik pun belum tentu sungguh-sungguh menjadi basis perjuangan. Sebab ada komunitas yang alakadar dan hanya untuk hura-hura bagi kesenangan pribadi para anggota. Untuk membangun sebuah bangsa atau daerah, kita tidak butuh komunitas yang hanya sekedar untuk kepuasan diri sendiri. Namun komunitas yang peduli dan prihatin dengan keadaan bangsa ini, peka terhadap kehidupan sesama, komunitas yang bangkit sebagai basis kekuatan untuk menumpas kejahatan dan melawan ketidakadilan. Kita tidak butuh komunitas “Pemuda” yang berkumpul miras, mabuk, narkoba dan perusak fasilitas umum, seperti lampu jalan dan rambu-rambu lalu lintas. Kita tidak butuh komunitas “Para Istri Pejabat” yang melancong ke keluar negeri hanya untuk pamer tas mahal dan berpose genit. Kita tidak butuh komunitas “Geng Motor” yang hanya untuk pamer dan justru membuat ribut dan gaduh jalanan. Kita tidak butuh komunitas yang berafiliasi dengan organisasi besar hanya untuk mencapai kepentingan diri dan menjadi pengkhianat bangsa. Kita tidak butuh komunitas “Para Pengusaha” yang hanya bertujuan untuk mempangaruhi kebijakan demi meraih keuntungan bisnis tetapi mengabaikan hak-hak dan menindas para buruh dan karyawannya.

Basis Kekuatan
Ada pepatah mengatakan, “bercerai kita runtuh, bersatu kita teguh”. Kira-kira itu adalah dasar pentingnya sebuah komunitas dan atau organisasi. Orang-orang yang merasa senasib seperjuangan dengan tujuan yang mulai, tidak akan bisa bergerak sendirian untuk menumpas “kekuatan jahat”, sebab kebaikan yang tidak direncanakan dengan matang, akan cerai-beraikan olah kejahatan yang terorganisir dengan baik. Yang harus kita lawan dengan berbekal komunitas adalah koruptor, mafia peradilan, para “penjual” manusia, Bandar narkoba, teroris dan organisasi radikal yang mengancam Pancasila dan keutuhan NKRI dan berbagai macam kekuatan jahat. Kejahatan-kejatahatan itu, telah membuat bangsa ini sulit bangkit dari kesulitan ekonomi, susah bangkit dari kemiskinan, keterbelakangan pendidikan dan ilmu pengetahuan. Anak-anak di desa susah sekolah, mereka tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang kurang berkualitas yang kemudian menjadi sasaran empuk bagi para pelaku human trafficking. Sebabnya, komunitas atau organisasi adalah alternatif untuk bersatu padu, menyatukan kekuatan dan berkolaborasi ide dan gagasan demi membangun bangsa.

Refleksi Harkitnas dan Komunitas Pemuda di NTT
Makna kebangkitan nasional pada zaman penjajahan dengan zaman reformasi ini tidak lagi sama. Makna kebangkitan nasional pada era penjajahan adalah untuk tujuan kemerdekaan dari penjajahan bangsa asing. Namun, makna kebangkitan nasional saat ini adalah untuk bebas dari krisis multidimensi termasuk kemiskinan dan kebodohan. Oknum pejabat sedang di landa krisis kepedulian dan kepekaan terhadap rakyatnya, masyarakat krisis kepercayaan terhadap penegak hokum dan wakil rakyat karena pengadilan dan Gedung DPR di Senayan seakan menjadi arena jual beli pasal dan kekuasaan oleh oknum-oknum pencinta uang haram. Kalau demikian, pernyataannya, “Siapa yang bangkit?”. Yang bangkit hanya mereka yang dekat dengan sumber uang dan kekuasaan. Sedangkan orang-orang kecil di pinggiran, pelosok-pelosok desa, para petani, nelayan dan para buruh, terus tertindih oleh kerasnya kehidupan dan hanya bisa mengais sisa-sisa kehidupan tradisional yang tertinggal dan terbelakang.

Oleh sebab itu, sekali lagi, kita tidak butuh Komunitas Ecek-ecek. Kita butuh komunitas yang kritis, kritis terhadap keadaan kita yang tidak beres. Kita butuh komunitas yang bangkit dan marah. Marah di kala hak-hak kita dirampas oleh para pejabat yang korup. Kita butuh komunitas yang malu. Malu dan bangkit untuk berjuang ketika NTT menjadi daerah dengan indeks korupsi tertinggi di Indonesia, tingkat kemiskinan yang tinggi, lahan basah bagi para kejahatan kemanusiaan. Kita memerlukan komunitas yang teriak. Teriak, saat oknum para penyelenggara negara berselingkuh untuk menilep uang begara. Komunitas yang sadar. Sadar bahwa kenyamanan yang kita nikmati selama ini hanyalah kenyamanan semu yang diciptakan untuk membungkam mulut kita yang ingin bersuara. Komunitas yang bertanggungjawab. Bertanggungjawab terhadap masa depan daerah ini berikut generasi penerusnya. Komunitas yang bertanya. Bertanya mengapa kualitas pendidikan dan kesehatan masih buruk, kasus penjualan manusia (human trafficking) tinggi. Kita butuh komunitas kerja keras. Kerja keras untuk hidup lebih baik ketika NTT masih menyandang status daerah dengan indeks kemiskinan paling tinggi di Indonesia. Karena itu, satu langkah awal yang harus kita lakukan adalah bekali diri dengan ilmu pengetahuan. Sehingga kita kuat dalam berargumen dan meyakinkan dalam berpendapat. Tanpa itu semua, maka kita akan tetap menjadi manusia-manusia apatis yang terus hidup nyaman dalam ketertinggalan daerah ini.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel