Fakta Di Balik Euforia di Hardiknas





Elkana Goro Leba
Pemerhati Masalah Sosial

Sudah tradisi sejak turun-temurun, pemerintah pusat hingga daerah selalu hanyut dalam hal-hal yang seremonial yang acapkali tanpa esensi. Tidak tanggung-tanggung, mereka berani ludeskan uang Negara jutaan bahkan miliar rupiah hanya guna euphoria dan foya-foya untuk kesenangan sesaat. Mulai dari sambutan terhadap pejabat dalam kunjungan kerja ke daerah-daerah dengan upacara-upacara yang glamour, bahkan masyarakat kecil dan “kotor” di larang mendekat ketika ada kunjungan pejabat ke daerah. Keberhasilan yang disulap dalam bentuk Pameran UMKM sebagai sebuah keberhasilan dalam pembangunan ekonomi. Contohnya, kunjungan Menteri pergadangan dan perindustrian di kota tertentu, halaman walikota di sulap jadi pameran usaha kecil dan menengah. Pameran yang hanya “Asal Bapa Senang (ABS)”, kalau pemerintah berhasil dalam membangun dunia usaha. Padahal, di luar sana, para pelaku UMKM, ada hidup segan, mati tak mau. Hal itulah yang memanjakan pemerintah sehingga tidak melihat sisi lain dari apa yang terjadi dalam masyarakat. Seremonial yang tanpa manfaat lainnya seperti menyewa hotel dan restoran mewah hanya untuk rapat kerja. Yang lucu dan memalukan lagi, perilaku para anggota dewan pakai masker penangkal asap dalam ruang rapat di Senayan padahal kebakaran hutannya di Riau (bersyukur, mereka bukan pakai masker di rumah sakit jiwa), pemerintah sibuk sosialisasi program kerja sana-sini di gedung-gedung mewah, padahal minim manfaat. Saya ambil contoh, misalnya, sosialisasi program pemerintah untuk para petani dan nelayan. Biasanya pemerintah sosialisasi program di hotel dan restoran mewah. Pertanyaannya, apa gunanya sosialisasi program kerja untuk petani dan nelayan dilaksanakan di hotel mewah? Bukankah para nelayan dan petani ada di pantai/laut dan sawah/kebun? Jika demikian, apa esensi dan sosialisasi program itu? Hanya satu jawaban, yaitu hanya untuk habiskan anggaran. Para pejabat berangkat sini-berangkat sana, lebih suka memberangkatkan 20 orang untuk mengikuti pelatihan IT di luar daerah, daripada mendatangkan 2-3 orang tenaga ahli ke daerah. Sisi lain lagi, mungkin sedikit melebar ke perayaan tahun baru 2016 yang telah lalu di Rumah Jabatan Guberbur dan tempat lainnya. Kita habiskan uang jutaan hingga miliar rupiah hanya untuk bakar petasan dan kembang api. Bayangkan saja, kalau uang sebanyak itu diberikan sebagai kado tahun baru kepada mereka yang belum punya rumah, atau bangun gedung sekolah bagi anak-anak di pelosok. Mungkin itu bukan sepenuhnya uang Negara, tetapi apa gunanya kita mencari donor dari swasta hanya untuk “dibakar” untuk kesenangan sesaat? Bukankah itu lebih bernilai bila membantu mereka yang tak berpunya? Sungguh ini sebuah ironi yang mencabik hati dan jantung! Kurang lebih, itulah yang mendorong Presiden Joko Widodo untuk selalu pegang prinsip hemat dalam pemerintahannya. Dengan melarang pejabat menyelenggarakan rapat di hotel dan restoran mewah.

Hardiknas dan Euforianya
Selain itu, setiap ada perayaan hari-hari besar kenegaraan, seperti HUT NKRI, HUT Daerah, atau hari-hari raya lainnya,  pemerintah seringkali pamer keberhasilan, menampilkan angka-angka statistik yang hanya mereka yang bisa membaca dan menafsirnya, upacara dan pertunjukkan yang menghiburkan sang pejabat. Salah satunya baru saja berlangsung 2 Mei yang lalu, yakni Hardiknas. Pemerintah rayakan Hardiknas dengan upacara, orasi ilmiah, pidato dan himbauan, seni dan pertunjukkan. Diantaranya “Pertunjukkan Drum Band” oleh para murid yang diundang secara khusus. Pada hakekatnya, tidak ada yang salah dalam perayaan seperti itu, hanya saja, seremonial itu “jangan sampai” menutup mata kita dan tidak dapat melihat fakta lain yang terbalik 180 derajad dari euphoria drum band. Kita hanyut dan “tertidur” dalam upacara-upacara yang terkesan mewah, sehingga pada momen Hardiknas, kita lupa akan para guru seperti ibu Adi Meliyati Tameno, seorang guru honorer di SDN Oefafi, Kabupaten Kupang yang dipecat hanya karena bertanya tetang gaji pada kepala sekolah. Euphoria di Hardiknas ini jangan sampai meluputkan pandangan kita dari guru-guru di TTS dan daerah lainnya seperti Adrianus Maneno, Petronela Kenjam dan Meliana Eba, dan lainnya yang  mengabdi hanya dengan gaji 100ribu per bulan (Kompas, 5 Mei 2016), sementara wakil rakyat gaji lima puluhan juta per bulan tetapi hanya sibuk dengan partai politik dan proyek miliaran rupiah. Jangan sampai drum band meninabobokan kita, sehingga tidak lagi mendengar jeritan para guru honor di pelosok-pelosok desa yang terima gaji 6 bulan sekali. Semoga Ceremonial dengan drum band tidak mengalihkan perhatian kita dari anak-anak di SDN Taebenu dan tempat lain seperti di Sumba, Rote, Soe, Kefa, Alor, dan Sabu serta Flores yang belajar di gubuk usang berlantaikan “lumpur”, beratapkan alang-alang dan berdinding bebak tanpa daun pintu dan jendela. Semoga Gubernur, Walikota/Bupati tidak hanya habis dalam orasi, pidato dan himbauan di mimbar upacara Hardiknas tanpa pelaksanaan, sehingga tidak melupakan akan anak-anak penerus bangsa ini yang pergi ke sekolah berjalan kaki puluhan kilometer, naik gunung, turun lembah, menyeberang sungai dan lewati hutan, tanpa seragam dan alas kaki, anak-anak putus sekolah karena orangtua terdesak kesulitan ekonomi, perpustakaan sekolah yang berdebu tanpa lemari dan buku karena uang pengadaan buku “dirampok” oleh oknum mantan walikota dan oknum kepala dinas.

Harapan dan Doa Kami Anak Indonesia
Akhirnya, di Hari Pendidikan ini, banyak harapan yang tak sempat dikirimkan oleh kami anak-anak desa yang jauh dari hiruk-pikuk kota. Kami tidak tahu apa yang sedang para wakil dan para pempimpin kami lakukan untuk masa depan kami dan Negara ini, karena kami tidak punya tivi dan radio untuk menonton dan mendengar berita, kami tidak paham apa itu internet, kata orang, kampung kami kering dan gelap, mungkin kami masih dijajah oleh para koruptor yang menjadi tikus-tikus kantor dan perampok-perampok berdasi, bahkan oknum-oknum Pejabat pusat sampai ke daerah, oknum  wakil rakyat juga sedang  menjajah kami. Dari kejauhan diantara ladang dan kebun yang mengering, kami hanya mampu berbisik kepada Tuhan, “sadarkanlah pemimpin kami, agar mereka tidak sibuk dengan hal-hal yang seremonial yang kadang tanpa esensi, mereka jangan lagi sibuk menjadi “calo” proyek siluman, Bandar miras dan penari erotis, para istri pejabat tidak lagi melancong ke luar negeri yang dibungkus dengan istilah “promosi budaya”, padahal hanya untuk kesenangan pribadi, dan para wakil kami agar tidak “bakurampas sumur bor” supaya tercipta keadilan social untuk seluruh rakyat Indonesia. Kami berdoa agar Bapak Gubernur tidak hanya “menanam” kepala kerbau untuk membangun gedung mewah (nanti “terbakar” lagi) tetapi juga membangun gedung sekolah bagi kami. Dalam doa kami nama bapak Gubernur disebutkan agar diingatkan, jangan hanya bangun jembatan antar pulau bernilai 5 Triliun, tetapi juga membeli buku dan alat peraga pendidikan, seragam, sepatu, pensil dan pena bagi kami”. Semoga kami didengar!

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel