NTT di Antara Tuhan dan Leluhur


Sebelum terlalu jauh mengurai topik di atas, penulis perlu tegaskan, bahwa artikel ini tidak anti lokalis. Tidak menentang hukum-hukum keberagaman dan budaya lokal serta adat kebiasaan masyarakat setempat. Penulis juga tidak sedang menganggap diri paling tahu dan suci dalam hal menjalankan ajaran agama. Hanya ingin menyampaikan pesan moral dan mengingatkan, bahwa sebagai orang beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa (bukan leluhur) sebagai sumber kehidupan dan yang berkuasa atas seluruh alam semesta (termasuk leluhur), kita perlu tahu, berupaya dan harus mampu menjalankan perintah dan menjauhi apa yang dillarangNya dalam eksistensi kita sebagai manusia yang terdiri dari daging yang lemah dan Roh yang kuat.
Ibarat pepatah kuno, “sam­bil berenang minum air”. Sambil memuja leluhur, kita juga memuji Tuhan. Begitulah kira-kira yang terjadi dalam seremoni peletakkan batu pertama pembangunan Gedung Kantor Gubernur di Jalan El Tari pada tanggal 23 Oktober 2015 lalu. Sebagaimana tersurat dalam berita di website resmi pemerintah Propinsi NTT (http://nttprov.go.id) dan beberapa media masa lokal, bahwa peletakkan batu pertama pembangunan gedung itu dilakukan berdasarkan adat Suku Helong (salah satu suku di NTT). Dimana dalam kesempatan itu, kepala kerbau di tanam di tiang utama sebagai simbol kekuatan dan persembahan kepada para leluhur. Kepala Kerbau yang ditanam di tiang utama Kantor Gubernur dengan tanduk melengkung yang diiringi dengan doa dalam bahasa Helong itu sebagai permohonan restu dari para leluhur juga kepada Tuhan untuk membuka jalan, menjaga semua pekerjaan sehingga bisa selesai tepat pada waktunya.

Penyembahan Berhala dan Pemimpin Wajib Jadi Role Model
Akhirnya Rakyat NTT akan mempunyai kantor gubernur mewah. Konon katanya, dikutip dari harian Timeks, bahwa mega proyek pembangunan kantor pemerintahan pertama dalam sejarah berdirinya Provinsi NTT ini menggunakan ABPD Provinsi NTT 2015-2016  sebanyak Rp. 178 Miliar yang dikontrak oleh PT. Waskita Karya dengan lama pengerjaan 15 Bulan. Didesain dengan dengan bentuk Alat Musik Sasando. Dimana tinggi gedung utama Lima Lantai dan tinggi sayap kiri-kanan tiga lantai, tetapi sayangnya, ada beberapa kejanggalan dalam proses pembangunan gedung itu. Selain mega proyek ini tidak mempunyai analisis manajemen dan dampak lingkungan (AMDAL), pendiriannya juga terjadi penyembahan berhala, yaitu menyembah roh orang mati (leluhur) dengan menanamkan kepala kerbau di tiang utama sebagai simbol kekuatan seperti tersebut di atas. Sekedar mengingatkan, Amdal adalah kajian mengenai dampak suatu kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang dibuat saat perencanaan suatu proyek yang diperkirakan akan memberikan pengaruh terhadap lingkungan hidup di sekitarnya (termasuk pembangunan gedung pemerintah yang besar seperti Kantor gubernur NTT).
Sangat ironis dan miris rasanya mendengar dan melihat para pemimpin daerah ini – yang katanya Kristen – memperlihatkan hal-hal yang berseberangan dengan kebenaran Alkitab. Apa lagi hal seperti ini dibaca dan dilihat oleh Rohaniawan seperti para pastor, Pendeta, ustadz dan pemuka agama lainnya. Tidak berlebihan bila ini adalah tindakan Para pemimpin kita sedang yang “menggeser keMahakuasaan Tuhan Pencipta Langit dan Bumi dan sebaliknya menTuhankan roh orang mati”. Pertanyaan yang mungkin tidak pernah terjawab adalah, “mengapa panitia pembangunan yang ada di bawah kepemimpinan Pak Frans Lebu Raya sebagai pucuk pemimpin di daerah ini tidak memohon pertolongan Tuhan lewat Rohaniawan untuk merestui dan melancarkan proses pembangunan gedung itu? Apakah mereka lebih menganggap para leluhur dan roh orang mati lebih berkuasa daripada Tuhan yang kita puji dan sembah dari mimbar-mimbar rumah ibadah? Atau mungkin juga mereka sedang kerasukkan roh nenek moyang sehingga lebih memilih meminta perlindungan dari leluhur dan roh orang mati dari pada memanggil para Rohaniawan untuk berdoa memohon pertolongan daripada Tuhan yang mereka akui, puji dan sembah setiap hari minggu? Mengapa harus meminta pertolongan dari orang mati, bukankah roh orang mati itu ada bawah kendali Tuhan yang Maha Kuasa? Mungkin pertanyaan ini hanya bisa dijawab oleh Pak Gubernur dan bawahannya. Dan apapun jawabannya, tetap tindakan tanam kepala kerbau di tiang utama itu adalah salah dari sudut pandang kitab suci dan saya yakin, mereka-mereka ini juga orang yang percaya bahwa Kitab Suci adalah satu-satunya sumber kebenaran Tuhan dan panduan moral. Sadar atau tidak, mereka sedang menTuhankan roh orang mati dan menduakan Tuhan (silahkan minta ampun dosa). Patut dicurigai, jangan sampai para pemimpin ini percaya bahwa roh nenek moyanglah yang mengantarkan mereka menjadi pemimpin. Atau bisa juga agar gedung itu tidak dimakan api lagi, karena mungkin gedung yang lama dibangun dengan doa kepada Tuhan, sehingga dilalap api terus, yang entah terbakar atau dibakar.
Disamping itu, sebagaimana yang diberitakan harian Timeks sebelumnya, gedung mewah itu tidak mempunyai analisis manajemen dan dampak lingkungan (AMDAL) dengan alasan gedung tersebut akan dibangun di atas lahan bekas gedung lama. Sehingga tidak harus menggunakan Amdal. Padahal di lain pihak, Pemerintah pusat melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kementerian Pertanahan menegaskan, bahwa gedung tersebut lebih dari 10 ribu meter persegi, karena itu tidak ada alasan tidak menggunakan Amdal. Pembangunan gedung megah dan mewah tanpa Amdal ini menyiratkan bahwa Analisis Dampak Lingkungan hanya sebuah formalitas bagi pemprov NTT. Bangun saja gedungnya dahulu, nanti amdalnya menyusul. Begitu kira-kira. Namun, persoalannya, kalau proyek ini tidak lolos amdal, apa gedung itu harus digusur? Tidak mungkin. Ini artinya pemerintah melanggar aturan. Rupanya, pemimpin daerah ini terlalu meremehkan persoalan yang penting dan memperbesar masalah yang kecil. Amdal adalah sebuah aturan hukum. Karena itu tidak ada tawar-menawar dalam pelaksanaannya. Dasar hukum AMDAL adalah Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 2012 tentang "Izin Lingkungan Hidup" yang merupakan pengganti PP nomor 27 Tahun 1999 tentang Anlisis Manajemen Dampak Lingkungan. Oleh sebab itu, Pemerintah propinsi NTT belum bisa menjadi Role Model atau teladan bagi rakyatnya. Padahal seharusnya, disinilah posisi strategi Pak Gubernur dan bawahannya sebagai telandan dalam menegakkah hukum dan menaati aturan. Tegakkan aturan sebagaimana mestinya. Agar masyarakat menilai, bahwa inilah yang harus dicontohkan. Bagaimana anda dapat menegur orang kalau hal yang prinsip seperti ini saja anda tidak mau turuti. Kalau para pemimpin saja menyepelehkan aturan dan menyembah berhala apa lagi masyarakatnya. Kira-kira begitulah kesannya.

Rohaniawan Segera Bertindak!!!
Melihat perbuatan penyembahan berhala atau secara tidak sadar menempatkan Kuasa Tuhan dibawah roh orang mati oleh para pemimpin ini, seharusnya Rohaniawan seperti pendeta, pastor merasa “tersinggung”. Karena nasehat mereka tidak diindahkan. Sama seperti seorang ayah memarahi anaknya bila tidak turuti nasehatnya. Kurang lebih itu adalah pelecehan terhadap ajaran yang mereka sampaikan. Apalagi ini dilakukan oleh para pemimpin yang  mengerti dan paham – setiap hari minggu mengucapkan Iman Rasuli di gereja. Para Rohaiawan Jangan hanya berani berkoar-koar di atas mimbar, menyampaikan pesan agar umat jangan menyembah berhala. Jangan berlagak seperti raja dan ratu yang hanya suka berteriak dan bersabda serta mendoakan sambil menunggu mujizat Tuhan terjadi dan tidak tahu apa yang dilakukan umatnya. Sudah tidak zaman hanya berkoar di atas mimbar. Karena yang lebih penting adalah aksi nyata. Berdoa, juga bekerja. Jangan hanya pintar menegur orang kecil. Kalau anda bernyali besar dan percaya akan kuasa Tuhan, dan akui Tuhan adalah satu-satunya Allah, tegurlah mereka yang menduakan Tuhan dan memamerkan kekonyolan itu kepada publik. Karenanya, tantangan saya bagi para pendeta, pastor, ustad dan semua pemimpin agama lainnya di NTT, ubahlah dulu perilaku para pemimpinnya - termasuk diri anda -  dan biarlah rakyat mengikuti.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel