Kesakitan Pancasila

damai di negeri pancasila
Gambaran cinta Karena Toleransi
Selamat hari kesaktian Pancasila!
Sejak pidato Bung Karno tanggal 1 Juni 1945 yang dinamainya “Pidato Hari Lahirnya Pancasila”, yang hingga sekarang dikenang menjadi hari lahirnya pancasila, dipercaya bahwa Pancasila itu sangat “sakti” dalam menyatukan nusantara. Dalam perjalanannya, banyak tantangan yang dihadapi. Pemberontakkan demi pemberontakan yang merongrong kesaktian pancasila. Salah satu pemberontakan berdarah yang menguji kesaktian itu adalah “G30S-PKI”. Paham Komunis tidak sesuai dengan azas-azas dalam Pancasila yang mengandung kepribadian dan pandangan hidup Bangsa Indonesia. Bangsa Indonesia sangat mengakui adanya Tuhan, menghormati HAM, menjunjung tinggi budaya Gotong Royong, dan banyak keyakinan agama dan suku serta budaya sebagai warisan dari para leluhur yang sangat majemuk. Kini kita sedang dirundu oleh ideologi garis keras ISIS. Ini ancaman yang sangat serius terhadap kesaktian pancasila.

Hari kesaktian pancasila ditetapkan tanggal 1 Oktober 1965 untuk mengenang momentum selamatnya Bangsa Indonesia dari pemberontakan para penganut paham komunis tanggal 30 September tahun 1965, yang kemudian dikenal dengan “Gerakkan 30 September Partai Komunis Indonesia (G30S-PKI)”. Artinya, “paham” atau nilai atau ideologi yang terkandung dalam Pancasila lebih sakti dari pada Paham Komunis yang dianut oleh PKI. Karena itu, hari Kesaktian Pancasila tidak terlepas G30S-PKI. Gerakkan ini disebut-sebut digawangi oleh Letnan Kolonel Untung bin Syamsuri, mantan bawahan Soeharto di Komandan Resimen 15 Solo. G30S seperti sebuah gerakkan “genosida” yang menculik para Jenderal besar terbaik bangsa Indonesia dan sekaligus sempat mengancaukan keamanan di tanah air. Mereka antara lain adalah Jenderal Ahmad Yani, Letnan Jenderal R. Suprapto, Letnan Jenderal Haryono, Letnan Jenderal Siswondo Parman, Mayor Jenderal Pandjaitan. Mereka disiksa dengan sadis dan tidak berperikemanusiaan di tempat penyiksaan yang para pemberontak namai dengan nama “Lubang Buaya” lalu setelah itu bagian atasnya mereka tutupi dengan pohon pisang. Salah satu jenderal yang menjadi sasaran sekelompok pasukan pemberontak tersebut adalah jenderal Abdul Haris Nasution, namun lolos dari peristiwa percobaan penculikan. Tetapi putri tercinta dan ajudannya, Pierre Tendean tewas dalam kebiadaban tersebut. Setelah penculikkan selesai, Letkol Untung dan kawan-kawan sempat menguasai pusat telekomunikasi yang menjadi corong proklamasi kemerdekaan RI tanggal 17 Agustus 1945, yaitu Radio Republik Indonesia (RRI) di jalan Merdeka Barat Jakarta. Letkol Untung melalui RRI mengumumkan terbentuknya “Dewan Revolusi” sekaligus mengelabui publik dengan pernyataan bahwa mereka telah berhasil menghentikan upaya “Dewan Jenderal” yang diemban pada jenderal TNI AD yang akan melakukan aksi kudeta terhadap pemerintah. Walaupun G30S tidak terbukti secara sah dan meyakinkan bahwa itu adalah pemberontakan yang didalangi oleh PKI, tetapi pemerintah orde baru sudah menggiring opini publik bahwa itu adalah gerakkan pemberontak PKI.

Karena itu, kemudian banyak orang berntanya-tanya dan berkonpirasi mengapa Mantan Presiden Soeharto yang saat itu sama-sama menjabat seorang jenderal namanya tidak tercantum dalam daftar tokoh yang harus dilenyapkan oleh pemberontak PKI. Ada apa di balik itu? Itulah yang menjadi pertanyaan yang belum dapat difaktakan hingga kini. Namun, untuk meyakinkan khalayak ramai, pemerintah orde baru mengatakan bahwa, gerakkan ini dilakukan oleh sekelompok pasukan yang tercatat sebagai Cakrabirawa yaitu pasukan pengawal presiden yang melakukan aksi penculikan dan pembunuhan kepada para jenderal. Pada saat itu Jenderal Soeharto memegang tongkat komando dan melakukan kebijakan penting untuk merebut kembali Jakarta dari tangan pemberontak PKI. Dalam waktu sehari dan tanpa harus menggunakan senjata “Dewan Revolusi (PKI)” berhasil dipatahkan. Saat membaca dan membayangkan kronologis G30S-PKI, banyak orang yang merasa terbawa dalam sebuah kengerian yang luar biasa, bagaimana para jenderal negara yang terhormat diculik hidup-hidup dan disiksa hingga mati dalam “lubang buaya”. Kekalahan PKI yang membawa ideologi paham komunis membuktikan betapa saktinya Pancasila yang menjadi nilai dan ideologi negara Indonesia sekaligus sumber dari segala sumber hukum.


Kesakitan Pancasila
Begitu saktinya lima sila kita yang mengandung nilai-nilai universal guna menuntun bangsa ini menjadi bangsa yang berTuhan, berkemanusiaan dan beradab, bersatu, rakyat yang dimpimpin hikmat dan kebijaksaan dan berperikeadilan sosial. Namun, saat ini Pancasila sedang “sakit”. Sakit karena pemberontakan PKI (Para Koruptor Indonesia). PKI adalah orang yang santun sikapnya, tetapi hati mereka memberontak. Mereka adalah perampok. Mereka mengklaim diri berTuhan, tetapi hidup dan perbuatan mereka tidak berkemanusiaan dan biadab. Mereka tega melihat dan mebiarkan anak-anak bangsa ini merana dalam kemiskinan, kelaparan, ketertinggalan, kebodohan, kemelaratan secara struktural. Mereka beretorika, bahwa Indonesia adalah negara yang bersatu dari Sabang sampai Merauke, tetapi justru mereka membuat sekat-sekat kesenjangan hidup dan membangun jurang-jurang pemisah diantara anak-anak bangsa. Sehingga anak orang kaya (anak PKI) bergaul dan hidup dengan orang kaya, anak keluarga miskin menjadi penonton kemewahan mereka. Maka terciptalah jurang pemisah yang kian hari, kian melebar dan dalam. PKI itu berpenampilan dan berbicara seperti orang bijaksana yang dipimpin oleh hikmat, tetapi kenyataannya bermoral buruk. Mereka menuduh anak-anak zaman sekarang adalah anak-anak yang tidak bermoral, padahal mereka sendiri amoral.

Pancasila adalah nilai, falsafah dan pandangan hidup bangsa Indonesia yang tak akan lekang oleh waktu. Setiap tanggal 1 Oktober, para PKI itu membaca, mengahafal bahkan memahami sila demi sila dari Lima Sila, berkampanye, berpidato dengan lantang, menyerukan keadilan sosial bagi seluruh rakyat, tetapi mereka bertindak sebaliknya. Mereka memperjualbelikan hukum. Siapa memperjualkanbelikan hukum, artinya dia juga memperjualbelikan pancasila, karena pancasila adalah sumber dari segala sumber hukum. (Nilai) Pancasila sudah tidak ada harga lagi karena mereka menginjak-injak demi kepentingan pribadi dan kelompok partai politik. Itulah yang menyebabkan, Pancasila dan mendiang Bung Karno kini sedang sakit melihat kelakuan menyimpang dari para pemimpin bangsa ini.

Oleh karena itu, perlu adanya upaya “penyembuhan” sekaligus mengembalikan kesaktian pancasila secara serius. Eksistensi Komisi Pemberantasan Korupsi perlu diperkuat, sehingga tidak ada lagi upaya pelemahan KPK oleh PKI dengan berbagai cara untuk memuluskan langkah mereka demi mengeruk uang negara secara masif dan berkolegial. Ujung tombak dari upaya perubahan itu adalah pemerintah. Bila eksekutif dan legislatif (DPR) masih dihuni oleh PKI-PKI yang tidak berTuhan, biadab, tidak berkemanusiaan, amoral dan tidak adil, maka mimpi Indonesia untuk menjadi negara yang bebas KKN dan seluruh rakyatnya sejahtera pada tahun 2045, hanyalah khayalan di siang hari bolong. Penegakkan hukum memang menjadi penglima, tetapi uang negara yang dirampok oleh PKI seharusnya menjadi tujuan utama untuk mencapai keadilan dalam memberantas korupsi. Selama ini, hukuman untuk koruptor tidak adil. Misalnya, mereka merampok uang negara 100 miliar, denda hanya 1 Milliar, hukuman 2 tahun (keluar dia rampok lagi), maka hasil rampasan sebanyak 99 miliar, dia nikmati sepanjang hidupnya. Makanya, hukuman pemiskinan atau bahkan tembak mati koruptor, menjadi salah satu obat penyembuh sakitnya pancasila yang sakti itu.  



Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel