Refleksi 70th: Kita masih Dijajah “Bangsa” Sendiri


70 tahun sudah Indonesia, secara fisik dan psikis bebas merdeka dari  imperialisme dan jajahan serta jarahan bangsa asing. Ini adalah perjuangan panjang dan pengorbanan harta dan nyawa dari para pahlawan negara tanpa takut dan gentar untuk mengusir para penjajah dari bumi pertiwi. Setelah Bung Karno dan kawan-kawan memproklamirkan eksistensi Negara RI Pada tahun 1945, bangsa ini terus berbenah dari segala keterpurukan akibat tangan panas para penjajah.
Para pemimpin dan oknum pelayan publik (PNS) kita masih gila hormat, harta dan kekuasaan. Lebih suka dihormati dan disanjung dari pada menghormati dan menyanjung. Padahal mereka “dikasih makan” oleh rakyat untuk bekerja sebagai pelayan. Gemar hidup mewah di atas penderitaan rakyatnya, suka pamer harta dari hasil jarahan hak orang lain. Jauh berbeda dari kepribadian Panglima Besar, Soedirman dan Wakil Presiden pertama, Mohamad Hatta yang hidup dalam kesederhanaan.
Saat ini kita sedang melawan bangsa sendiri. Tidak berlebihan, karena Bung Karno pernah berkata, “perjuangan ku lebih mudah, karena mengusir penjajah, tetapi perjuangan akan lebih sulit karena melawan bangsa sendiri”. Kita sedang melawan para penjarah hak-hak orang kecil, koruptor-koruptor menjadi biang terpuruknya bangsa ini. Negara Korea yang hampir seumur dengan Indonesai sudah menjadi raksasa ekonomi dunia, padahal secara sumberdaya Indonesia lebih melimpah. Indonesia yang dulu mengirim guru ke Malaysia, kini menjadi pengirim “pembantu”. Lagi-lagi ini adalah akibat perbuatan kelam dan dosa pekat para koruptor.
Keadaan kekinian Indonesia saat ini, bila dibandingkan dengan kekayaannya, baik sumber daya manusia maupun sumber daya alam, dalam usianya yang ke-70 tahun, Indonesia seharusnya tidak lagi menjadi negara lapis tengah secara ekonomi. Kita sudah menjadi raksasa ekonomi dunia, kalau saja para pemimpin kita sungguh-sungguh melayani sebagaimana amanat Bung Karno dalam pidatonya di Kedutaan Besar Amerika pada tahun 1956 “Mari kita sungguh-sungguh bekerja untuk Bangsa ini”.
Indonesia belum mampu mengelola kekayaannya sendiri. Ini akibat dari rendahnya kemampuan anak bangsa dalam mengelola sumber daya alam. Karena hak anak-anak Indonesia untuk menimba ilmu yang pantas dan layak, dirampas, dirampok oleh para koruptor. Anak-anak putus sekolah karena keadaan ekonomi, orantua sakit-sakitan karena tidak bisa membayar rumah sakit, gizi buruk dan perdagangan manusia adalah santapan harian media masa. Itulah yang menyebabkan kekayaan alam kita masih dikuasai oleh asing. Papua, NTB dan Kalimantan adalah contoh konkrit dan merupakan kasur empuk bagi para pengusuha asing untuk menggerus perut bumi nusantara.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel