Kota Kupang Krisis Listrik, Bukti Negara Gagal

Tujuan perjuangan pra kemerdekaan adalah kemerdekaan. Tujuan kemerdekaan adalah kemakmuran dan kesejahteraan. Amanat agung sekaligus roh dari perjuangan yang membakar semangat para pahlawan kemerdekaan Indonesia bertahun-tahun sebelum 17 Agustus 1945 agar membawa kita hidup bebas dari imperialisme bangsa asing seperti sekarang> Sepertinya semua orang hafal, tahu dan paham bahwa tujuan dari kemerdekaan itu adalah untuk “memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan Kehidupan (anak-anak) bangsa” yang di dalammya tersurat dan tersirat nilai-nilai keadilan, kesetaraan dan kemerataan untuk wilayah dan masyarakat Indonesia dari ujung barat sampai ujung timur, dari sebelah utara hingga selatan. 70 tahun sudah kita “merdeka”. Artinya bebas dari jajahan para penjarah seperti Belanda, Jepang dan Portugis. Kebebasan ini lebih dimaknai sebagai kebebasan secara fisik kerana tidak lagi “dirodi” secara fisik dengan cara yang tradisional. Tetapi kita masih “dirodi” oleh para pemimpin (koruptor) di negeri ini. Rakyat bekerja membanting tulang, pemerintah menuntut untuk membayar pajak, dan pajak itu dikorupsi untuk memperkaya diri. Ini adalah perbudakan era modern. Rupanya Mendiang Bung Karno sudah memabaca bahwa anak bangsa yang kini hidup menikmati kemerdekaan  adalah para penjahat dan penjarah masa kini. Karena itu dia pernah berkata “Perjuangan ku lebih mudah karena mengusir penjajah, tetapi perjuangan mu akan lebih sulit karena kamu melawan bangsa mu sendiri yaitu “para koruptor” yang menjarah hak-hak orang lain”. Berbicara tentang  kemakmuran dan kesejahteraan, maka maknanya lebih dalam dan besar dari pada sekedar kata-kata para wakil kita di Senayan untuk mengelabui rakyat Indonesia. Kemakmuran dan kesejahteraan mencakup segala segi kehidupan. Ekonomi, politik, sosial budaya yang menjangkau suku, ras, agama tanpa adanya diskriminasi. Itu artinya, kehadiran negara ini adalah untuk menjamin bahwa rakyat bebas, makmur dan sejahtera dalam segala aspek kehidupan. Tetapi mari kita kembali ke topik. Tidak berlebihan bila penulis mengartikan “kebebasan atau kemerdekaan” itu adalah juga “bebas atau merdeka” menikmati listrik di seluruh wilayah negara Indonesia ini. Tanpa ketimpangan dan pemberlakuan secara tidak seimbang antara daerah yang satu dengan daerah yang lainnya, antara Indonesia Bagian Barat (IBB) dengan Indonesia Bagian Timur (IBT). Tetapi sambil menelisik kenyataan dan fakta yang terjadi di Kota Kupang, sepertinya keadilan, kemerataan itu belum berlaku di negeri ini. Rakyat NTT sedang dirundung duka kemerdekaan dan kemelaratan kelistrikan. Masyarakat kota Kupang sudah kehabisan kata-kata untuk mengungkapkan bobrok dan buruk serta joroknya pelayanan publik yang ditanggungkan kepada PLN Cabang Kupang. Ungkapan kejenuhan, kebosanan hingga kemarahan yang meledak-ledak dari masyarakat kota Kupang di Media sosial, dapat dilihat, dibaca dan dipahami oleh orang-orang yang mempunyai hati nurani, kecuali para pemimpin kita yang duduk untuk menjabat guna memperkaya diri dengan jarahan hak-hak rakyatnya. Kemarahan masyarakat NTT umumnya dan Kota Kupang Khususnya termanifestasi dalam “postingan-postingan” dan simbol-simbol mereka di media sosial, seperti Facebook, BBM, Instagram dan lainnya. Kata-kata sindiran halus  hingga makian kasar sudah warna-warni di media sosial ketika PLN memadamkan listrik, apa lagi dalam waktu yang lama. Prihatinnya lagi, keadaan ini sudah berlangsung bertahun-tahun, tetapi tidak ada tanda menjadi lebih baik, malahan lebih  parah dan buruk. Ketika rakyat bertanya, alasan mesin pembangkit yang sudah tua pun menjadi kambing hitam. Di pihak lain, mesin tidak terawat, tetapi tarif listrik terus naik. Tingginya Biaya, seharusnya diikuti dengan pelayanan yang baik. Orang bijak berkata “orang bodoh, selalu menyalahkan alat ketika dia tidak bisa melakukan sesuatu, tetapi orang pintar menyalahkan dirinya dan mencari solusi”. Jadi, seandainya kita mendasari diri dengan kata bijak itu, maka pemerintah yang hadir lewat PLN Cabang Kupang seperti orang bodoh yang selalu menyalahkan mesin pembangkit listrik (berharap tidak) yang sudah tua dan tidak mampu memasok listrik di Kota Kupang. Inikah yang disebut dengan kesejahteraan dan kemakmuran yang “dijual” oleh para pemimpin kita untuk mengelabbui para pemilih ketika pesta politik tiba? Janji palsu dan retorikan omong kosong itu hanya berlaku untuk keluarga dan kelompok mereka. Kesejahteraan hanya mimpi yang entah akan terjadi atau tidak. Pemimpin semakin kaya, rakyat jelata terus melarat. Dari status wilayah dan administrasi pemerintahan, Kupang adalah sebuah Kota. Bila itu faktanya, sudah seharusnya orang-orang hidup di dalam menikmati harinya seperti layaknya orang kota. Listrik, air dan pendidikan serta kesehatan bahkan semua fasilitas seperti jalan dan jembatan dijamin kualitasnya oleh negara. Tuntutan itu tidak berlebihan karena rakyat mengupah mereka untuk itu. Tetapi setan pun tahu bahwa fasilitas jalan dan listrik serta air di Kota Kupang nerakanya para budak. Ini adalah Bukti Negara Gagal. Sudah 70 tahun kita merdeka tetapi kebutuhan listrik bagi rakyatnya saja tidak bisa dipenuhi. Harold J. Laski mengatakan bahwa tujuan negara adalah menciptakan keadaan yang baik agar rakyatnya guna dapat mencapai keinginan secara maksimal. Sementara Fungsi negara yaitu untuk mengusahakan Kemakmuran dan Kesejahteraan bagi Rakyat. Negara yang hadir lewat orang-orang yang dipilih oleh rakyat untuk mengusahakan hidup yang lebih baik bagi rakyatnya. Mereka wajib bekerja untuk rakyat. Kalau pemerintah gagal dalam memenuhi kebutuhan rakyatnya, maka itu juga wujud kegagalan negara dalam mengubah kehidupan rakyatnya agar lebih baik. Listrik adalah kebutuahn dasar masyarakat di era industri dan teknologi. Karena kebutuhan dasar, maka tidak boleh tidak dipenuhi. Buktinya adalah ketergantungan masyarakat kota kupang terhadap PLN sangat tinggi. Dan ketika PLN memadamkan listrik banyak hal yang terbengkalai. Berkaitan dengan krisis listrik yang terjadi di Kota Kupang dan seluruh wilayah NTT, menunjukkan kealpaan untuk untuk menjamin dan memebuhi kebutuhan dasar rakyatnya. Selain itu, Industri juga tak akan berkembang di kota Kupang. Listrik adalah jantungnya pertumbuhan ekonomi dan industri. Listrik dan industri seperti dua mata uang yang sulit dipisahkan. Dan pertumbuhan industri adalah indikator pertumbuhan ekonomi suatu negara. Hal ini juga berlaku bagi kota kupang. Entah sampai kapan PLN tidak lagi mengkambinghitamkan Mesin pembangkit, maka saat itulah masyarakat Kota Kupang merdeka dari krisis listrik.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel