Hegemoni Dosen: Dosen Bukan Dewa



Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuan dengan tugas utama mentransformasikan, menyebarkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni melalui pendidikan, penelitian dan pengabdian terhadap masyarakat. Ketika mendengar kata dosen, hampir semua orang tahu itu adalah salah satu profesi yang sangat mulai, dan banyak orang yang mengidamkannya. Sesungguhnya dosen adalah sosok yang berintelektual, cerdas, berilmu tinggi, profesional, idealis, taqwa, berakhlak mulia, berkomptensi yang sesuai dengan keahlian dan satu lagi yang melekat pada sosok dosen adalah menghargai perbedaan pendapat. Hal ini dikarenakan mereka mengajari orang-orang (mahasiswa) yang berasal dari berbagai latar belakang dan usia. Karena itu, tentu peserta didik ini mempunyai beragam pengalaman yang membentuk pola pikir dan tingkah laku serta idealisme mereka dalam kelas. Di sinilah dosen harus menghargai pendapat orang lain. Selain itu, tugas dosen adalah mengajar, meneliti dan mengabdi kepada masyarakat. Mengajar bertalian dengan aktivitas dosen di kampus dan dalam kelas. Meneliti dan mengabdi berhubungan dengan bagaimana seorang dosen melakukan penelitian untuk menemukan hal-hal baru baik untuk memperkaya ilmu pengetahuan dan teknologi, maupun untuk menyelesaikan persoalan sosial kemasyarakatan.
Meskipun demikian, realita di luar sana asimetris dengan pandangan kebanyakan orang seperti di atas. Faktanya masih banyak dosen yang tidak dapat menjalankan tugasnya dengan baik dan benar, padahal sudah semestinya mereka adalah kaum terdidik, karena itu mereka lebih paham bagaimana menjadikan diri lebih profesional dalam menjalankan tugas.
Kalimat sindiran Soe Hok Gie (1942-1969) “dosen bukan dewa dan selalu benar, dan  mahasiswa juga bukan kerbau. Karena itu, kata Hok Gie, dosen yang tidak tahan kritik, silahkan masuk ke keranjang sampah”. Dua penggalan Kalimat di atas, mengisyaratkan kepada kita bahwa, sekalipun dosen adalah kaum terdidik dan berintelektual tinggi, dia tidak bisa menguasai seluruh isi dunia ini seperti dewa. Dengan demikian, maka mahasiswa mempunyai hak untuk menyatakan pendapat, bahkan “membantah” (tentu saja dengan cara yang sopan) bila terdapat kekeliruan dalam pengajaran oleh dosen. Tetapi sekali lagi, masih banyak dosen yang menempatkan dirinya seperti dewa, sehingga ruang untuk menyatakan pendapat bagi mahasiswa tidak terbuka sebagaimana mestinya. Hal ini memang tidak secara terang-terangan dilakukan oleh oknum dosen, tetapi pada umumnya mereka akan “balas dendam” dengan memberikan skor nilai yang buruk bagi mahasiswa yang bersangkutan. Inilah yang membuat mahasiswa takut untuk menyatakan pendapat, sekalipun itu bertentangan dengan hati nurani mereka. Secara tidak langsung pasti berdampak negatif terhadap pikiran kritis dan kreatifitas serta jiwa inovasi mahasiswa.
Selain itu, dosen juga merupakan orang yang mengerti bagaimana bertindak jujur dan adil, terlebih bertindak terhadap mahasiswanya. Namun, lagi-lagi masih sebatas teori di atas kertas. Banyak dosen yang tidak bertindak adil terhadap mahasiswanya. Misalnya, kasus yang sangat sering bahkan selalu terjadi di dunia kampus adalah dosen boleh terlambat, bahkan hingga satu jam, tetapi mahasiswa tidak boleh terlambat, walupun hanya lima menit. “sang dewa” janji kuliah jam jam 8 (misalnya) tetapi tanpa kabar berita mahasiswa menunggu samapi  jam 12 siang. Itukah yang namanya bertindak adil? Belum lagi, dosen bertindak otoriter mengubah jadwal perkuliahan seenak jidatnya, karena “si dewa” mempunyai proyek di luar sana, tanpa ada kompromi dengan mahasiswa. Ini adalah daily story di kalangan mahasiswa. Itulah sebabnya, mangapa ini bukan lagi rahasia bagi semua orang yang pernah rasakan hangatnya bangku kuliah dan berhadapan dengan dosen yang killer dan otoriter. Berbagai kampus di Kupang, terutama kampus-kampus kesehatan, yang masih mengontrak tenaga pendidik dari sana-kemari,  seringkali ”dewa-dewa” ini bertindak tidak adil terhadap mahasiswa. Dengan 1001 macam alasan menunda-nunda jam perkuliahan. Pertanyaannya, bukankah itu sudah terjadwal dari jauh sebelum itu, sekalipun mendadak, minimal dosen wajib mempunyai komunikasi dengan mahasiswa untuk memberitahu sebelumnya. Ini tindakan yang sangat mencederai keprofesionalan tugas mulia dosen. Dosen memang dibutuhkan, sekaligus dikarenakan dosen adalah orang yan lebih tua, karena itu wajib harus dihargai dan dihormati. Kultur masyarakat nusantara yang harus menghargai orang yang lebih tua, memang wajib dilaksanakan. Tetapi bukan berarti orang yang lebih muda tidak boleh dihargai oleh yang lebih tua.
Sikap kedewaan dosen, juga tergiring oleh, mainstream dari kebanyakan orang selama ini yang menganggap mahasiswa adalah kaum yang “membutuhkan”, dan dosen yang “dibutuhkan”. Secara tidak langsung terjadi hubungan ketergatungan yang saling menguntungkan tetapi dosen merasa diri paling inti dan hebat. Karena itulah, mahasiswa tidak boleh terlambat masuk kelas, walau lima menit tetapi dosen boleh terlambat, sekalipun setengah sampai satu jam. Tetapi orang yang pola pikirnya anti-mainstream, baik dosen maupun mahasiswa sama-sama saling membutuhkan, tidak ada yang merasa inti dan lebih hebat. Posisi mahasiswa sebagai orang yang membutuhkan dosen itulah yang membentuk sikap dan perilaku dosen seolah mereka adalah dewa yang tahu segalanya dan bertindak semena-mena.

Revolusi Mental Dosen
Akademisi tidak pantas hanya berkoar-koar dari dalam kandang yang bernama kampus, sehingga lupa membenahi diri. Jangan ada lagi filosofi anjing melolong di dalam kampus. Berani “menggonggong” orang di luarnya tetapi tidak tau dir. Kampus dan dosen terkadang seperti itu, mengkritik birokrasi pemerintah yang berbelit-belit, padahal dalam kampus sendiri lebih memprihatinkan. Karena itu, tidak hanya PNS yang membutuhkan revolusi mental, tetapi yang paling penting adalah dosen dan guru, sehingga dapat merevolusi mental peserta didik mereka. Dengan demikian, tercipta dosen yang selalu berinovasi dalam pengajaran, materi-materi kuliah yang ter-update, tidak ada lagi dosen yang membuat bahan ajar untuk 1-5 tahun, buku pegangan yang jadul (jaman dulu), bahan ajar hanya berasal dari 1-2 sampai dua referensi. Sebab dengan inovasi dan bahan ajar yang mutakhir akan membuat mahasiswa pun mempunyai pengetahuan yang terbaru.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel