Semua tentang JOGJA (edisi 1)



ALL ABOUT JOGJA (first edition)

Kenal dulu kawans, orang bila kalau gak kenal, gak sayang, kalau gak sayang, berarti belum kenal. Nih, namaku Elkana Goro Leba, populer dengan nama Ely. Dari Kupang, NTT. Aku ke Jogja untuk kuliah di UGM. Aku udah setahun di sini tanggal 25 Desember 2013 aku tiba di Jogja (that’s first time guys). Ngekos di Sagan, Sleman-Jogja (dekat UGM). Mungkin catatan ini akan jadi dikit referensi buat kawans yang belum pernah ke Jogja.
Kawans, ni catatan kecil ku tentang Jogja. Ku tulis berdasarkan pengalamanku selama setahun di Jogja. Akan ku tulis “all about Jogja”hal-hal yang baik aja, karena yang ku rasakan seperti itu, dan juga banyak ku akan membandingkan dengan tempat asalku (Kupang, NTT). Aku gak maksud menjelekkan atau menyudutkan satu sama lain, tetapi membandingkan untuk memudahkan kawans aja dalam membacanya. Maaf kalau nanti kawans temukan kata-kata atau kalimat, bahkan paragraf yang gak berkenan dimata, pikiran dan hati kawans. Agak panjang tulisannya, jangan bosan yah kawans!!! Nah, kita langsung ke TeKaPe aja yah. Eh, tapi jangan lupa yaah, tinggalkan komentar di bawah setelah dibaca.
Yogyakarta adalah salah satu Provinsi yang sangat memegang teguh budaya Jawa. Saking teguhnya, hingga sekarang bentuk pemerintahannya pun masih monarki. Aku inget waktu dulu ada orang yang koar-koar bilang SBY tidak tahu budaya karena dia pernah bilang negara kita negara demokrasi, tetapi masih ada daerah yang pemerintahannya monarki karena ada Jogja yang kepala daerah atau gubernurnya tidak dipilih langsung oleh rakyat. Tetapi menurut ku sich, gak masalah yang demokrasi juga gak baik-baik amat koq. Malah yang demokrasi itu, konflik sosialnya banyak pula. Yah, biarin aja, itu budaya kita turun temurun. Lagian itu udah di undangkan juga tentang Hak Keistimewaan Yogyakarta. Aku lupa UU no. berapa, cobalah kawans googling. Bahkan kalau kawans baca di wikipedia HB IX pernah jadi Wakil Presiden Suharto pada tahun 1973-1978.
Jogja (Yogyakarta) adalah ibu kota dari Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). DIY sendiri mempunyai 4 Kabupaten yakni, Kabupaten Gunung Kidul, Bantul, Kulon Progo, Sleman, dan 1 Kota yaitu kota Jogja. Kotanya sich kecil. Awalnya aku pikir UGM itu di Kotanya, ternyata UGM masuk wilayah adiministrasi Kabupaten Sleman. Kata orang, Jogja adalah kota pelajar, karena banyak orang dari semua tempat di nusantara ini, numpuk di sini untuk kuliah bahkan luar negeri gak jarang kawans temui di Jogja. Kampus-kampusnya ada UGM, UNY, Atmajaya, Sanata Dharma, UDKW, Stikes Bethesda, Ukrim, Mercu Buana, dan lain-lain. Dengar-dengar nih, ratusan kampus di Jogja, mulai dari sekolah tinggi, akademik, institut, politeknik, hingga universitas. Selain itu, Jogja juga dikenal dengan Gudegnya yang khas rasanya. Aku biasa makan yang Gudeg nangka, rasanya manis. Aku pernah naya resepnya, Gudeg Nangka Bahan dan bumbu: 1 kg nangka yg tidak terlalu muda, potong-potong, 12 btr telur rebus ( kupas kalau ingin bumbunya lebih meresap), 1000 cc air kelapa atau 1 sdt cuka, 10 lbr daun salam, 8 iris lengkuas ½ x 8cm yg diiris menurut panjangnya, 200 gr gula merah, iris hal, 2000 cc santan, bikin dari 1 butir kelapa. Ada pula Opor Ayam Tahusambal Goreng Krecek.
Ada tempat-tempat umum yang biasa didengar kalau orang omong Jogja, seperti Malioboro, waktu kecil aku biasa baca di baju orang “jalan2 di Maliobro”, Keraton, Candi Prambanan, Alun-alun Kidul, monumen serangan umum 1 Maret dengan Meseum Vredeburg (baca tuch sejarahnya di google), taman Pintar, Galeria Mall (orang biasa singkat Gale), UGM, UNY, Plaza Ambarukmo, Jalan Kaliurang, Jalan Solo (jalan yang menghubungkan Solo dan Jogja), Jalan Ring Road utara dan selatan (Jalan lingkar), Jembatan layang Janti (kalau kawans dari Surabaya dengan bus antar kota, baru tinggalnya di dekat UGM dan sekitarnya, bilang aja sama kondekturnya, “turun di jembatan layang janti ya pak!”, kawans tinggal dengan taksi atau ojek 10-20 menit sampe ke UGM, jadi gak perlu sampai Terminal Bus Giwangan di Bantul sana, jauh. Ada Bandara Internasional Adisucipto (20-30 menitan dari UGM), Stasiun Kereta Api Tugu (dekat Malioboro) dan Lempunyangan (10 menit dari UGM), RS. Bethesda (5 menit dari UGM), RS. Panti Rapih (bersebalahan dengan UGM), RS. Dr. Sardjito (RS.FK UGM), Terminal Bus Giwangan, Candi Borobudur, sekalipun sebenarnya Borobudur itu di Magelang Jawa Tengah, sekitar 50an kilo dari jogja, tetapi orang biasa kalau ke Jogja pasti ke Borobudur, ada lagi satu namanya Pasar Klitian Jogja, itu pusat barang-barang bekas hingga barang baru kawans, mulai dari helem, alat-alat motor pakaian juga ada, pokoknya yang menyangkut otomotif nyari aja di sana kalau mau yang bekas juga bru.
Kalau mau ke Jakarta, dengan kereta dari Jogja, butuh waktu sekitar 8-10 jam aja, ke Surabaya 4-5 jam, kalau pesawat ke Jakarta sekitar 50 menit uda mendarat di Bandara Sutta, dari Jogja dalam waktu 30 menit udah landing di Juanda Surabaya. Kalau mau ke Bali tinggal dengan kereta ke Banyuwangi, tiket sekarang Jogja-Banyuwangi (Januari 2015) cuman 50 ribu, dari Banyuwangi kawans tinggal jalan kaki ke Pelabuhan, deket aja, untuk nyebrang dengan kapal ke pelabuhan di Bali. Tiket gak nyampe 50 ribu kawans. Jadi dari Jogja ke Bali cuman butuh, yah 200ribulah dengan makan minum, udah bisa lihat bule yang pake kutang aja di pantai Kuta kawans. Kendaraan yang bakal sering kamu jumpai seperti becak, dokar (kereta kuda) di samping jalan Malioboro, juga taksi, tetapi tidak sebanyak di Jakarta.

Masyarakat Jogja Umumnya
Seperti masyarakat Jawa pada umumnya, orang Jogja juga ramah lingkungan kalau bicara. Ramah, santun, dan kreatif, budaya hormat menghormati itu ada di sini kawans. Satu yang aku suka, kalau di Jogja, kawans jalan-jalan dan gak tau jalan, tanya saja sama orang-orang yang kawans temui di jalan seperti tukang parkir, PKL dan lain-lain. Mereka akan dengan detail mengarahkan kawans ke jalan yang benar. Arahkan di mana kawans harus ke kiri, sampai mana harus belok kanan, dan dari mana kawans harus maju mundur cantik. Yang penting kawans tau arah mata angin, barat, timur, utara, selatan yang mana. Karena mereka kebanyakan mengarahkan ke arah-arah itu. Jangan kayak aku, gak tau di sini mana timur barat utara selatan. Lihat matahari baru tau, ow.. itu timur, makanya aku sering nyasar.
Beda dengan masyarakat Jakarta, pengalamannku, banyak masyarakat Jakarta yang gak bisa nunjukkin jalan kalau kita nanya. Aku pernah nanya, dari Jalan Proklamasi ke Kemenkeu dan ke Grand Indonesia aja mereka gak tau, padahal itu sebenarnya tempat yang populer.  Aku pernah pengalaman juga dari Tugu Proklamasi (Tuprok) ke Monas aku gak tau jalannya uda mutar-mutar gak tau lewat mana. Tanya orang pada gak tau semua. Belum lagi aku dari Monas mau ke Taman Surapati, aku pernah nyasar mutar-mutar akibat tanya orang dan kasih tau jalannya salah. Yah, jadi aku gak percaya itu orang-orang. Kalau ke Jakarta aku lebih percaya GPS atau tanya sopir taksi atau tukang becak atau polisi karena orang itu yang biasa ukur jalan tiap hari.
Dosen-dosen di sini juga ramah-ramah dengan mahasiswa. Bukan menjelekkan sich, tapi ada dosen di tempatku yang nyebelin bangets. Pegawai juga ada yang Jaimnya minta ampun. Sama kayak Pak Jokowi bilang, PNS berkarkter “priyayi”, mau dilayani, padahal mereka pelayan publik. Yah, taulah pegawai-pegawai di Kampus di Kupang gimana. Sekali lagi bukan menyudutkan loh, hanya membandingkan, kan kita juga beda budaya dan karakter. Kalau kampus disini, dari masuk portal kampus aja kawans uda di sapa dengan hangat oleh security, masuk kampus juga ketemu pegawai dan dosen juga ramah. Jadwal-jadwal kuliah di kelas juga fleksibel. Pokoknya asiklah kawans.
Karena orang Jogja adem-adem ayem aje, jarang terjadi kriminal di sini. Jarang kan masuk tipi, emang ada sich tetapi jarang. Beda kan dengan daerah Jawa yang lain, masuk tipi terus karena kriminal tinggi.
Di sini banyak komunitas-komunitasnya cuy, komunitas seni, agama, pendidikan, olahraga dan lain-lain. Orang-orang dari daerah juga yang rantau ke sini banyak perkumpulan-perkumpulannya. Kawans gak sulit temukan orang-orang yang sedaerah dengan kawans di sini. Karena itulah anak-anak mudanya produktif bangets. Komunitas seni itu banyak bangets, kawans pernah dengar kan, ada anak yang kuliah di ISI (Institut Seni Indonesia) Jogja yang menang dalam desain cover album lagu Maroon 5 itu. yang gambar kepala macan itu loh kawans. Keren kan?

Makanannya Murah
Ia juga sich, makanan murah. Apa lagi buat kontraktor (anak kos/kontrakan) lumayan buat hemat-hemat. Kawans bisa hidup sederhana tetapi banyak cinta dengan uang 500-sejuta dalam sebulan. Bahkan aku pernah alami, makan sederhana, aku hanya habis 300ribu 3x makan sehari dalam sebulan. Gak tau gimana terjadinya, tau-tau hanya uang 300ribu yang habis. Tapi itu di luar sewa kontrakkan loh. Istilah dosen ku, kalau mahasiswa itu, apa lagi udah akhir bulan, paket makannya “Esteler (Es Teh Tempe Loro)” artinya es teh satu, nasi putih dengan dua potong tempe.  Tetapi itu sudah kenyang sich. Makanya orang bilang biaya hidup di Jogja itu rendah.
Tetapi aku biasanya gak kenyang dengan porsi di sini, karena menurut ku nasinya sedikit, mungkin itu juga yang buatnya murah kali. Lambung ku udah biasa dengan porsi banyak, jadi dia susah penuh dengan yang sedikit. Makanya kalau ke warung (istilah di sini burjo) aku biasa omong sama mas di burjo, “Mas, nasinya porsi timur yah”. Dia udah ngerti itu porsinya dua kali lipat Porsi Barat (Jawa) tetapi harganya satu porsi Jawa. Pasti masnya dalam hati, “dasar orang timur lambung besar”. Aku nyante wae, yang penting kenyang cuy. Kalau di sini orang yang kulitnya tidak putih (jangan bilang hitam, gw tonjok lo) di bilang orang timur, kan asal dari NTT, Papua, jadi orang timur. Awalnya ku bingung waktu diajak teman, dia bilang makan di burjo aja, aku dalam hati, aku mau makan nasi bukan bubur kacang ijo. Maklum, di tempatku Burjo itu bubur kacang ijo, tetapi di sini, burjo itu warung yang sama dengan di tempat ku. Makanan murah, tetapi harga barang lain biasa aja, murah kalau dibanding NTT, Papua, Manado, dan daerah luar Jawa lainnya, karena disini dekat dengan tempat produksi.
Di sini warung dan tempat makan itu ada yang buka 24 jam kawans, jadi gak susah kawans kalau perut minta diisi malam-malam. Makanya anak kos di sini gak kayak di Kupang yang ribet beli tacu periuk kompor kalu ngekos, cukup bawa lemari dan tempat tidur saja dan uang dalam dompet tentunya. Gak perlu masak, karena jam berapa aja ada warung yang buka kawans.


Pemuda dan Pemudi
Nich, ku coba bandingkan dengan pemuda-pemudi di tempatku. Bukan menjelek-jelekkan atau menyudutkan loh, tetapi pada kenyataannya menurutku. Sekali lagi ini menurut ku, kalau menurut kawans berbeda, its okey!. Cewek-ceweknya cakep-cakep kawans, putih, meskipun ada yang hidungnya moncong ke dalam. Udah Cantik, ramah-ramah lagi kawans. Beda dengan cewek-cewek di tempat asal ku, di sana, kalau ceweknya kulit agak jernih dan facenya lumayan, padahal jomblo, dan motornya keren apalagi pake stir bulat (mobil), padahal STNK atas nama orangtuanya, kawans jangan salah langkah, loe bisa-bisa disemprot habis-habisan bro. (maaf yah, dikit pedis, aku pernah di gituin soalnya, -malang-curhat-). Ni contoh salah satu nih, misalnya, dalam bis kota atau angkot. Kalau di tempatku, kawans dengan tidak sengaja nginjak kakinya, telinga kawans siap-siap panas dengar kata-kata ini “woee!!!!! Nyong!!! Lu pu mata taro di kendok ko? kira2 artinya gini ”woe!!! Cowok!!! Mata mu taruh di belakang kepala ya?, udah gitu, biji matanya rasa-rasa mau keluar dari habitatnya kawans, hati bagai diiris pisau karatan kawans, tetapi kalau di sini, kawans telinga adem-adem aja, dengan wajah cantiknya dan bibirnya yang aduhai, dia dengan lembut akan berkata “maaf mas, kaki ku mas” (tetapi jangan geer juga loe injak-injak sembarangan kaki anak orang, jangan sampe ayahnya celurit leher loe). Kalau cowok-cowoknya, menurut ku ideal aja sich, umumnya putih, rambut air (lurus), ramah, face sich pas-pasan, malah aku lebih cekep. (Huhuhuh....muji diri sendiri itu wujud ucapan syukur tau). Dan satu lagi kawans, sebagian anak muda di tempatku, kalau mau ke mana-mana, harus gaul kawans. Penampilannya harus oke, motornya harus keren, helemnya harus mahal, makanya ke mana-mana pikul helem karena takut dimaling orang. Kalau di kampus atau sekolah, helemnya ikut kuliah kawans (bawa masuk ke kelas maksudku). Jadi penampilannya oke bangets pokoknya, tetapi kadang-kadang ada sebagian yang otaknya tak seoke penampilannya dan napsunya lebih tebal dari isi dompet. Kalau di sini, beda kawans, yang penting motor mesin hidup, rodanya berputar dengan baik, dan helem masuk di kepala, jreeeng,, jalan!!! gak perlu yang keren dan mahal, bahkan gak mandi juga kale. Mereka di Kampus itu, banyak sekali kegiatan pengembangan dirinya kawans. Nah, dari situ aku sadar, biar penampilannya amburadul, jangan salah, ternyata mereka itu pintar-pintar kawans. Baru ku tau, ternyata mereka lebih utamakan otak dari penampilan luarnya. Meskipun itu tidak semua sich.
Di tempatku kalau naik angkutan umum, anak muda-mudinya, tunggu angkot atau istilahnya Bemo yang catnya bagus, musik kayak diskotik berjalan. Kalau yang jelek-jelek itu biar orangtua yang naik, kalau anak muda naik angkot jelek itu bermental orangtua kata mereka. Sebenarnya sich, saha-sah saja, namanya juga selera orang, yang bikin gregetan itu, kalau ada anak muda yang numpang angkot jelek, di olok dan ditertawain coba. Itu yang tidak baiknya. “Cobalah kau datang ke Jogja dan kau tunggu angkot yang seperti yang kau mau, cat bagus, full music, tunggu sampe tumbuh roda di kaki pun gak bakalan ada. Angkotnya aja jarang, apa lagi yang keren kayak di Kupang. Mimpi merayap di aspal pada siang bolong”.
Lain lagi ini kawans, kalau pemuda-pemudi di tempatku suka sekali ngejek orang yang pakai bahasa daerah kalau ngobrol di tempat umum. Di sana ada suku Sabu, Alor, Rote, Timor Flores dan lain-lain. Jangan coba-coba kawans ngobrol pake bahasa daerah kalau di kerumunan orang banyak, apa lagi di tengah-anak-anak muda, kawans siap-siap di ketawain. Dasar orang gak hargai perbedaan, padahal dari kampung juga. Di sini beda, orang bahasa daerah itu hal biasa, malah orang Jawa bangga bisa bahasa Jawa karena itu budaya mereka, masa orang Jawa tidak tau bahasa Jawa seharusnya malu dong. Begitu juga dengan muda mudi di tempat ku sebenarnya, harus bisa terima perbedaaan, bukan malah di olok-olok.
Hah, satu lagi, ini yang paling aku benci tingkah laku muda-mudi di tempatku, suka merusak fasilitas umum. Kalau ada tembok atau wadah apa yang bersih, suka sekali tulis-tulis nama mereka, ada juga kata-kata kotor.Nanti kalau tempat tidak bagus baru yang disalahkan pemerintah. Belum lagi lampu jalan dilempar. Jadi jalan gelap. Dasar otak suka gelap-gelapan itu orang-orang. Lihat saja itu lampu jalan di Kompleks Undana, lampu di Taman Nostalgia (Tamnos) semua sudah hancur dilempar. Dasar mental perusak. Tetapi muda-mudi di sini tidak seperti itu, kalau mau kasih rusak, ini lampu-lampu di UGM udah rusak semua, tetapi semua aman-aman. Tidak mental perusak.

Yang ku Gak Suka di Jogja
Motto kota Jogja itu, “Jogja BERHATI Nyaman” sama dengan Kupang “Kupang Kota Kasih” tetapi menurut dosenku, Jogja gak lagi nyaman, dia bilang, “Jogja BERHENTI Nyaman”, aku juga mau bilang Kupang gak lagi kasih, tetapi “Kupang Kota Kasar”. Kenapa begitu? Karena sekarang Jogja macet banget. Buat orang gak nyaman di jalan.
Hal lain yang ku gak suka, angkotnya udah jarang, asapnya kayak asap pabrik semen di kupang. Jadi kalau kawans buntut dari belakang, siap-siap merokok gratis. Kayak angkotnya itu, udah ada dari zamannya Hamengkubuwono I kali ya. Dalam bayanganku, trans Jogja itu kayak Trans Jakarta yang AC, dan dikit nyamanlah walaupun desak-desakkan dan banyak copetnya. Ternyata trans Jogja jelek bangets bis-bisnya. Asapnya minta ampun, jangan coba-coba buntut dengan motor dari belakang. Kalau jalan yang biasa macet yang sehari-hari ku lalui adalah Mirota Kampus (Bundaran UGM), Sekitar RS. Panti Rapih, depan RS. Sardjito (kedokteran UGM), Jalan Solo (depan Plaza Ambarukmo), Jalan Kaliurang (KM 1-lampu merah Jakal), dan lainnya. Kesalnya tingkat dewa kalau lagi buru-buru baru macet. Jadinya gak nyaman.
Lain lagi, kalau aku laki makan di warung lesehan (duduk) di pinggir-pinggir jalan, atau bahkan di burjo, datang itu sesama kita yang berjenis kelamin netral, gak cowok, gak cewek, alias banci itu. Aku kurang nyaman. Karena kadang datang ngamen tetapi rada-rada maksa gitu, minta uang, gak semua juga sich, tetapi ada yang kalu gak kasih, nanti kata-kata kasar keluar dan gak sopan. Selain itu, aku paling gak suka diganggu kalau lagi makan. Rasanya-rasanya aku mau makan sekalian sama orang itu. Kalau cewek cantik lewat sich gak apa-apa lah yao, tetapi kalau yang netral tadi, aku kurang senang (maaf yah). Itu aja sich yang aku gak suka.
  
Sekian dulu edisi pertama ini kawans, di tunggu edisi selanjutnya tentang "TEMPAT-TEMPAT  yang wajib Kawans kunjungi kalau ke Jogja"

Eh, tapi jangan lupa , tinggalkan komentar yah!