Ini Bahaya Bagi Ekonomi Dalam Negeri, Setiap Kali Rupiah Melemah Terhadap Dollar

Bahaya Bagi Ekonomi Dalam Negeri, Setiap Kali Rupiah Melemah Terhadap Dollar 

A.    Bahaya Pelemahan Rupiah Terhadap Dollar USA

Melamahnya nilai rupiah terhadap dollar AS hingga menyentuh nilai jual: 12,498.00 dan nilai beli: 12,374.00 (Sumber: http://www.bi.go.id/id/moneter/ informasi kurs/transaksi-bi/Default.aspx) menjadi persoalan tersendiri yang harus dipecahkan oleh pemerintah dan Bank Indonesia (BI). Sebelumnya, kenaikan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 25 basis poin dari 7,5 persen menjadi 7,75 persen”. (Kompas, 18 November 2014) juga menuai perdebatan. Pasalnya, kenaikan BI rate ini memberatkan para debitur dan pelaku industri perbankan karena harus bayar kredit lebih tinggi. Menguatnya dollar AS akan berdampak negatif pada masyarakat, sebab secara otomatis mengangkat nilai jual produk pangan dunia sehingga memicu naiknya harga barang dalam negeri. Maklum mengingat barang-barang kebutuhan masyarakat Indonesia sebagian besar adalah barang impor yang harus dibeli dengan dollar. Lebih dari itu, tidak hanya harga barang yang naik, tetapi juga menyebabkan minat investasi pemodal lokal dan asing menjadi berkurang. Kareba investor pada umumnya berpikir sebelumnya menanamkan modalnya di produk investasi pasar modal ataupun pasar uang. Meskipun BI rate naik untuk memikat pemodal asing untuk menyimpan dananya di tanah air.

BACA JUGA:
  1. Setiap Hari, Freeport Hasilkan 240 Kg Emas dari Papua
  2. Rupiah Melemah. Apa Yang Terjadi Dengan Rupiah? 

B.     Penyebab Nilai Tukar Rupiah Lemah

a)      Kebijakan Impor
Kebijakan dalam negeri pemerintah untuk mementingkan impor turut berkontribusi terhadap melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor Indonesia selama September 2014 sebesar USD 15,28. Sebaliknya, nilai impor selama bulan yang sama, tercatat USD 15,55 miliar. Dengan demikian, neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit USD 270,3 juta pada bulan September. Di sisi lain, misalnya, periode Januari hingga September 2014, impor migas sebesar USD 33,02 miliar sementara ekspor tercatat hanya sebesar USD 23,40 miliar. Inilah salah satu pemicu lemahnya nilaia tukar rupiah terhadap dollar.
b)      Faktor eksternal: Kebijakan Internasional
Pelemahan rupiah terhadap dollar tidak hanya karena kebijakan dalam negeri semata, tetapi juga terpengaruh oleh kondisi ekonomi global yang mengalami tekanan dan juga terjadi pelemahan mata uang global seperti Rusia, Jepang, Brazil dan lain-lain mengalami hal yang sama. Seperti adanya perbaikan ekonomi yang signifikan, sehingga kemungkinan suku bunga acuan bank sentral AS akan dinaikkan pada tahun 2015 mendatang yang menimbulkan spekulasi dari para pelaku ekonomi dan pengusaha internasional. Suku bunga AS yang sekarang 0,25 persen akan segera meningkat. Bisa di semester satu atau dua 2015. Jadi pasar lakukan antisipasi melalui pembelian dolar. Selain itu, saat ini pasar uang sedang mengalami tekanan dipicu oleh antisipasi terhadap hasil rapat dewan gubernur The Federal Reserve atau bank sentral AS. Rapat yang dikenal dengan Federal Open Market Committee (FOMC) itu digelar pada 16-17 Desember 2014. Dikabarkan bahwa pertemuan itu membahas arah kebijakan moneter AS pasca pembaikan pertumbuhan ekonomi di AS (Dikutip dari: http://www.jpnn.com/read/2014/12/17/276043/BI-Intervensi,-OJK-Hindari-Spekulasi- ). Kondisi inilah yang menyebabkan rupiah dari Desember 2013-Desember 2014 terdepresiasi 2,5 persen. Meskipun demikian, masih rendah dibanding dengan pelemahan mata uang yen Jepang sebesar 15 persen, dolar Singapura 6 persen, dan ringgit Malaysia 6 persen, rubel Rusia yang mencapai 48 persen, lira Turki 8,9 persen, dan real Brasil yang turun 12,4 persen.

c)      Utang Luar Negeri Indonesia
Pada akhir September 2014, utang luar negeri Indonesia, terdiri dari sektor swasta US$ 159,3 miliar (54,5 persen) dan publik US$ 132,9 miliar (45,5 persen). Utang LN didominasi oleh sektor swasta, baik jangka pendek maupun jangka menengah, bila rupaih terus melemah maka utang itu berpotensi sulit dibayar. Hal itu akan membuat kepercayaan internasional kepada Indonesia menjadi turun bila utang mereka gagal dibayar. Belum lagi, pada akhir tahun biasanya banyak piutang yang ingin membayar utang karena jatuh tempo, terutama utang LN swasta, sehingga terjadi peningkatan permintaan terhadap dollar AS. Selain itu, Karena akhir tahun juga, terjadi repatriasi dividen. Dimana perusahaan swasta asing mulai mengirimkan dividen ke negara asalnya.

d)      Mata Uang Rupiah Mudah Fluktuasi
Pada umumnya, mata uang negara-negara berkembang termasuk Rupiah, tergolong soft currency, yakni mata uang yang mudah berfluktuasi. Sementara mata uang negara maju, salah satunya Dollar Amerika Serikat tergolong hard currency, karena mampu mempengaruhi nilai tukar mata uang yang lebih lemah seperti rupiah. Karakteristik soft currency lebih sensitif terhadap kondisi ekonomi internasional. Seperti krisis finansial, spekulasi di pasar finansial, dan ketidakstabilan ekonomi dapat mengakibatkan jatuhnya nilai soft currency. Misalnya krisis tahun 1997-1998 ketika perekonomian Indonesia mengalami krisis parah.

e)      Pelarian Modal (Capital Flight)
Sebagian besar pasar finansial di dalam negeri di kuasai oleh pemodal asing. Hal ini membuat nilai rupiah tergantung pada kepercayaan investor asing terhadap prospek investasi di dalam negeri. Semakin baik iklim investasi dalam negeri, maka semakin banyak pula investor asing. Dengan demikian, maka rupiah akan lebih cenderung menguat terhadap dollar AS. Sebaliknya, semakin buruk kondisi investasi dalam negeri, maka rupiah akan semakin lemah karena investor tidak percaya atau tidak menanamkan modalnya di Indonesia.

BACA JUGA:
  1. Ini Perhitungan Hutang di Era Jokowi-JK, Hanya 16 Triliuan Rupiah?
  2. Jokowi adalah Presiden Paling Banyak Difitnah dan Dihina Sepanjang Sejarah Indonesia

C.    Dampak Kelamahan Nilai Tukar Rupiah

a)      Dari sudut konsumen
Dampak penurunan nilai tukar rupiah terhadap dollar karena harga barang impor naik, maka akan menurunkan daya beli masyarakat (permintaan) terutama masyarakat ekonomi  menengah ke bawah. Dampak ini akan mendorong menurunnya impor atau produksi barang dan jasa dalam negeri. Hal ini mengingat Indonesia masih banyak mengimpor bahan baku dan barang modal yang cukup besar.
b)      Dari sudut produsen
Naiknnya bunga uang dan kandungan input impor akan mendorong biaya produksi yang tinggi, sehingga harga barang naik. Apabila daya beli menurun dan harga barang/jasa meningkat, maka perusahaan akan memangkas jumlah produksi atau impor yang dapat berdampak terhadap PHK karyawan.
c)      Pendapatan Pajak Negara Berkurang
Apabila perusahaan mengurangi produksi dan impor, maka pajak yang dipungut pun berkurang, dengan demikian, penerimaan (anggaran belanja) yang bersumber dari pajak tentu ikut turun berkurang. Faktor kurangnya anggaran belanja ini akan berpengaruh kepada pertumbuhan ekonomi dalam negeri.

d)      Mengganggu Produksi Pertanian dalam Negeri
Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS, juga berdampak pada sektor pertanian dan agribisnis. Sebabnya, masih banyak perusahaan perusahaan yang menggunakan bahan baku diimpor dari luar negeri, maka implikasinya, gejolak keuangan akan berpengaruh terhadap struktur biaya operasonal petani. Tentu ini juga mengganggu perekonomian nasional. Namun, mungkin tidak terlalu dirasakan oleh perusahaan yang menggunakan bahan baku dalam negeri.

BACA JUGA:
  1. Pembangunan Infrastruktur Menjembatani Pembangunan Ekonomi 
  2. Dilematis Kabijakan Menaikkan Harga BBM Bersubsidi 
  3. Tujuan BI Menaikan Tingkat Suku Bunga (BI Rate) 2014 

D.    Fundamental Ekonomi Nasional Menguat

Di tengah gejolaknya ekonomi global yang tidak menentu, masih ada prestasi yang diraih Indonesia yang diakui masyarakat internasional seperti pelaku bisnis, pemerhati atau pengamat masalah ekonomi karena fundamental ekonomi nasional Indonesia termasuk menguat. Fundamental Ekonomi Nasional menguat ditandai dengan pertumbuhan ekonomi dan cadangan devisa yang seimbang. Sebagaimana dalam siaran pers BI tanggal 5 Desember 2014, posisi cadangan devisa Indonesia akhir November 2014 mencapai US$111,1 miliar yang dapat membiayai 6,6 bulan impor atau 6,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, meskipun turun dibandingkan dengan posisi akhir Oktober 2014 sebesar US$112,0 miliar, tetapi masih berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor. Penurunan tersebut dipengaruhi oleh pengeluaran untuk pembayaran utang luar negeri Pemerintah dan penggunaan devisa untuk pengendalian moneter oleh Bank Indonesia. Bank Indonesia menilai level cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal dan menjaga kesinambungan pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan. (Sumber: http://www.bi.go.id/id/ruang-media/siaran-pers/Pages/sp_1610014.aspx)
Selain itu, menguatnya perekonomian nasional karena adanya pertumbuhan ekonomi yang relatif naik dibandingkan negara-negara lainnya. Pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga penghujung tahun ini diprediksi hanya akan tumbuh 5,1%. Meskipun tidak mencapai target pertumbuhan yang dipatok pemerintah sebelumnya yaitu 7 %, namun perekonomian Indonesia secara keseluruhan lebih baik dan tetap tumbuh dari tahun ke tahun.

E.    Intervensi BI ke Pasar Valuta Asing (Valas)

Untuk mencegah keparahan nilai tukar rupiah terhadap dollar, Bank Indonesia (BI) melakukan intervensi ke pasar valuta asing (Valas). Hal ini sebagai langkah untuk stabilisasi nilai tukar Rupiah agar dampak penguatan dolar tetap terkendali. BI juga akan masuk ke pasar SBN untuk melakukan intervensi kepada Surat Berharga Negara (SBN). Intervensi tersebut adalah BI akan melakukan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) dari pasar sekunder. Ini juga dilakukan untuk penanggulangan dari penguatan dolar Amerika Serikat (USD). Intervensi lainnya untuk mengatasi anjloknya nilai tukar rupiah adalah otoritas moneter mengintervensi pasar keuangan yakni kemungkinan BI menjual dolar untuk menambah suplai valuta asing (valas) di pasar uang.




Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel