PD Pasar Perlu Tata Pasar Tradisional di Kota Kupang




Oleh: Elkana Goro Leba, S. Sos

 

Pasar merupakan salah satu dari berbagai sistem, institusi, prosedur, hubungan sosial dan infrastruktur dimana usaha menjual barang, jasa dan tenaga kerja untuk orang-orang dengan imbalan uang. Kegiatan ini merupakan bagian dari perekonomian. Pada era global ini, pasar tidak lagi dibatasi sebagai “tempat” bertemu penjual dan pembeli, karena ada pasar dunia maya yang penjual dan pembeli tidak perlu bertemu yang penting ada transaksi pertukaran. Menurut klasifikasinya, kurang lebih ada dua jenis pasar, yaitu Pasar tradisional dan pasar modern. Secara historis, pasar tradisional eksis sebelum pasar modern hadir dan kini semakin berkembang.  Kendatipun pasar modern, seperti hypermart, pasar swalayan (supermarket), dan minimarket terus menjamur dan bagi sebagian orang adalah tempat paling nyaman dalam berbelanja, namun belum mampu menggeser eksistensi pasar tradisional dalam memenuhi kebutuhan masyarakat, terutama masyarakat ekonomi menengah ke bawah. Pasar tradisional dan merupakan tempat bertemunya penjual dan pembeli yang ditandai dengan adanya transaksi jual beli secara langsung dan biasanya memungkinkan proses tawar-menawar. Kebanyakan pasar teradisonal menjual Sembilan Bahan Pokok (Sembako). Pasar Modern pada umumnya juga menjual sembako. Namun beberapa hal yang membedakan keduanya adalah pasar modern lebih bersih dan nyaman, lebih lengkap, tidak ada tawar menawar antara penjual dan pembeli, dan produknya cenderung terupdate, juga dapat bertransaksi online tanpa pembeli dan penjual harus bertemu. Namun keduanya termasuk dalam Pasar Barang Konsumsi yaitu pasar yang menjual barang-barang yang dapat langsung dipakai untuk kebutuhan rumah tangga. Misalnya, beras, ikan, sayur-sayuran, buah-buahan, alat-alat rumah tangga, pakaian, dan lain sebagainya.

Di Kota Kupang, eksistensi pasar modern semakin menggeliat, namun sepertinya pasar tradisional masih tetap menjadi pilihan utama bagi masyarakat kota kupang dan sekitarnya. Mungkin salah satu faktor pendorong hal itu karena warga kota kupang didominasi oleh masyarakat ekonomi menengah ke bawah. Sejumlah pasar tradisional di kota Kupang seperti Pasar Kasih Naikoten, Pasar Oeba, Pasar Kuanino, dan lainnya yang hampir 24 jam terjadi transaksi jual beli. Karena kesibukkan itu, tidak jarang membuat sejumlah pasar ini dipenuhi oleh para penjual dan pembeli. Hilir mudik aktifitas ini juga banyak menimbulkan kesenjangan dalam pasar. Seperti penataan los dan kios para pedagang yang tidak tertata dengan baik lalu lintas keluar masuk pasar yang tidak terarah serta fasilitas pasar yang tidak terurus dengan baik.

PD Pasar harus Bertindak

Peraturan Menteri Perdagangan RI Nomor 70/M-Dag/Per/12/2013 tentang pedoman Penataan dan Pembinaan Pasat tradisional Pusat Pembelanjaan dan Toko Modern, Pasal (1) ayat (3), pasar tradisoinal adalah pasar yang dibangun dan dikelola oleh pemerintah, pemerintah daerah, swasta, BUMN, BUMD termasuk kerja sama dengan swasta dengan tempat usaha berupa toko, kios, los dan tenda yang dimiliki dan dikelola oleh padagang kecil menengah, swadaya masyarakat atau koperasi dengan usaha skala kecil, modal kecil dan proses jual beli barang dagangan melalui tawar menawar. Oleh sebab itu, pengelola pasar Tradisonal di Kota Kupang adalah  PD Pasar. Dan PD Pasar wajib menerapkan pengelolaan manajemen yang profesional (Pasal 18 ayat (3) huruf (b).

 

Arus Lalin dan tempat parkir perlu ditata

Di Pasar naikoten dan Oeba misalnya, salah satu persoalan pelik yang mungkin banyak orang alami tetapi belum bisa bersuara adalah arus lalu-lintas masuk-keluar pasar dan tempat parkir yang belum terkelola dengan baik. Karena kesibukkan yang terus meningkat dari hari ke hari, tetapi pasar yang terus menyempit, tentu banyak kendaraan yang masuk dan keluar, baik roda dua maupun roda empat dan membuat macet.

Setiap hari, arus lalu lintas (Lalin) masuk dan keluar pasar menjadi aspek penting untuk diperhatikan. Perlu memetakkan jalur masuk (enter) dan keluar (exit). Selama ini, yang menyebabkan kemacetan adalah tidak ada pemetaan mana jalur masuk dan mana jalur keluar. Belum lagi jalan yang berlubang dan sempit karena banyak para pedagang yang menjual di badan jalan ikut bersumbangsih kepada masalah ini. Karenanya, PD pasar perlu beraksi untuk menyelesaikan masalah ini agar tidak amburadul. Sediakan tempat yang layak bagi para pedagang sesuai amanat Peraturan Menteri Perdagangan RI Nomor 70/M-Dag/Per/12/2013 tentang pedoman Penataan dan Pembinaan Pasar tradisional, Pusat Pembelanjaan dan Toko Modern, Pasal 19 ayat (1) huruf (d), bahwa pengelola Pasar Tradisional dalam hal ini PD Pasar wajib untuk menyediakan ruang bagi para pedangang, agar mereka tidak berjualan di badan jalan dan perbaiki jalan yang berlubang agar tidak menjadi kubangan lumpur. Berikut adalah tempat parkir kendaraan. Tempat parkir mungkin kendala yang bisa dikatakan krusial dalam pasar. Tempat parkir yang sempit dengan volume kendaraan yang banyak tentu bukan masalah mudah bagi pengelola parkir. Apa lagi tidak ada pemisahan antara tempat parkir roda dua dan roda empat.  Oleh sebab itu, harus ada penataan tempat parkir dan membutuhkan tempat parkir yang luas agar dapat menjawab volume kendaraan yang semakin tinggi.

 

Zonasi Barang Dagangan

Salah satu aspek penting yang berhubungan dengan pengelolaan pasar oleh PD Pasar dalam Pasal 19 ayat (3) huruf (b) pada Peraturan tersebut di atas adalah Zonasi Barang dagangan. Zonasi artinya pembagian atau pemecahan suatu areal menjadi beberapa bagian, sesuai dengan fungsi dan tujuan pengelolaan. Berhubungan dengan zonasi barang dagangan berarti PD Pasar harus mengklasifikasi barang dagangan para pedagang berdasarkan jenis dan fungsinya. Misalnya, sayur-sayuran terkonsentrasi pada satu tempat, buah-buahan, dan juga daging/ikan harus diklasifikasi secara teratur. Dan tentu dengan memperhatikan keseimbangan dan keadilan serta kemudahan akses oleh konsumen. Dengan demikian, maka pembeli atau konsumen akan mudah mencari barang-barang kebutuhan mereka dan pasar pun akan teratur dengan baik. Namun, yang terjadi selama ini belum ada pengkalsifikasian seperti termaksud di atas. Karena itu, PD Pasar perlu bekerja ekstra keras.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel