MOS: Antara Sengsara dan Nikmat

kekerasan dalam kegiatan mos

MOS: Antara Sengsara dan Nikmat

UUD MOS: Pasal 1: “panitia tidak pernah salah” Pasal 2: “bila panitia salah, kembali ke pasal 1
Setelah disibukkan dengan pendaftaran Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB), kini sekolah-sekolah dan kampus beralih kesibukkan ke pembinaan terhadap peserta didik baru yang telah dinyatakan diterima di sekolah atau kampus yang bersangkutan. Pada tingkat sekolah (SMP dan SMA sederajat), Pembinaan itu di lakukan melalui kegiatan yang namai “Masa Orientasi Siswa (MOS)”.

Sementara pada tingkat Kampus, istilahnya bervariasi. Ada yang dinamai dengan “Orientasi dan Pengenalan Kehidupan Kampus (Ospek), Temu Ilmiah, Bina Akrab dan ada pula yang memilih istilah yang keren, “Optimalisasi Student Day (OPSY)”. Apapun istilahnya, intisari dari kegiatan itu tidak lain adalah untuk mengenalkan kehidupan sekolah atau kampus kepada peserta didik baru.

Pengenalan itu, antara lain adalah aturan dan norma-norma serta kultur yang dianut oleh sekolah atau kampus yang bersangkutan bahkan menjadi standarisasi sikap dan perilaku dalam Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) baik di dalam maupun di luar kelas. Karena itu, seharusnya panitia yang menjadi pelaksana dalam kegiatan ini adalah orang-orang yang berperilaku baik dan merupakan teladan di sekolah atau kampus yang bersangkutan.

Antara Sengsara dan Nikmat
Bila merujuk pada makna yang sesungguhnya, kegiatan itu sangatlah besar hikmahnya. Namun faktanya berkata lain. Acapkali kesempatan ini disalahgunakan oleh para pelaksana sehingga terkesan ini  antara sengsara dan nikmat bagi siswa/mahasiswa baru. Masa-masa seperti ini adalah “sorganya panitia dan nerakanya peserta” (maaf, jargon panitia waktu penulis jadi peserta). MOS atau istilah lainnya tidak jarang menjadi ajang balas dendam para panitia.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel