Kota Kupang Macet, Antisipasi Sejak Dini



Seiring berjalannya waktu, mobilitas penduduk pula semakin tinggi. Karena itu dibutuhkan alat untuk mendukung mobilitas itu, yaitu kendaraan bermotor. Baik roda dua maupun roda empat atau lebih. Semakin hari, jumlah kendaraan ini semakin bertambah. Bila tidak dibarengi dengan manajemen yang baik, maka bertambahnya jumlah kendaraan sering menimbulkan masalah sosial, seperti polusi, kemacetan, kecelakaan lalu lintas dan sederet masalah lainnya yang tentu mengganggu aktivitas masyarakat. Di sejumlah kota-kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Surabaya, Yogyakarta dan lain-lain, masalah kemacetan kini menjadi perhatian utama pemerintah.
Kota Kupang pun tidak luput dari masalah tersebut di atas. Kemacetan di sejumlah titik jalan di kota Kupang (seperti Jln. Jend. Sudirman, Jln. Soeharto, Jln. Moh. Hatta, Jln. Siliwangi, Jln. Merdeka, Jln. Cak Doko, Jln. Tompello) menjadi “hidangan” siang para pengguna jalan. Dimana para pengendara kendaraan roda dua harus dengan hati yang rela dan iklas serta pasrah menikmati panas teriknya matahari di tengah kemacetan. Kemacetan ini sulit dihindari karena terjadi di jalan utama kota Kupang dan sedang menjadi isu hot di kalangan masyarakat luas sedangkan di agenda pemerintah, entahlah. Pasalnya jarak tempuh yang dapat dijangkau dalam waktu 5-10 menit bisa lebih lama, 30 menit -1 jam karena macet. Isu ini sepantasnya tidak boleh diremehkan. Karena itu perlu diantisipasi sejak dini. Namun, sebelum diantisipasi, perlu mencari tahu apa penyebabnya. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa ada banyak persoalan pelik yang menimbulkan kemacetan ini. Pertama, karena jalan berlubang. Jalan berlubang disejumlah titik jalan raya di kota Kupang tidak hanya ada di lingkungan tetapi juga terjadi di jalan utama (jln. Nasional dan jalam Propinsi). Jalan yang rusak itu turut berkontribusi terhadap kemacetan. Sebabnya, pengendara sering menghindari jalan yang berlubang atau harus berhati-hati dengan memperlambat laju kendaraan sehingga dengan sendirinya menimbulkan antrian panjang ke belakang. Kedua,  parkir sembarangan (liar) atau parkir tidak pada tempatnya. Parkir liar ini adalah parkir di badan jalan yang menyebabkan jalan menjadi sempit. Jalan yang sempit sudah pasti menimbulkan kemacetan, apa lagi dengan volume kendaraan yang terus bertambah dari hari ke hari. Belum lagi kendaraan pemilik toko yang masuk dan keluar. Ketiga, pertokoan tidak mempunyai tempat parkir. Salah satu Penyebab parkir liar adalah karena tidak ada tempat parkir yang disediakan. Hampir semua pemilik toko di sepanjang jalan Jend. Sudirman (Kuanino), Jalan Siliwangi (Kupang) tidak mempunyai tempat parkir, apa lagi tempat parkir trotoar saja tidak ada karena toko langsung bersentuh dengan pinggir jalan. Dengan demikian, masyarakat yang hendak berbelanja terpaksa harus memarkirkan kendaraan di badan jalan, sehingga menimbulkan jalan sempit, maka terjadilah macet.
Oleh sebab itu, masalah ini perlu diantisipasi sejak dini untuk dicarikan solusinya. Jangan tunggu sampai keparahan ini menyaingi kemacetan di kota Jakarta. Sebab mencegah lebih baik daripada mengobati. Solusi yang perlu ditempuh oleh pemerintah adalah, Pertama, perbaikan jalan rusak. Sejumlah titik kerusakan jalan di Kota Kupang, memang perlu diakui ada perbaikan, teapi perbaikan itu sepertinya “hanya asal bapa senang”. Pasalnya hampir semua titik yang berlubang adalah jalan bekas perbaikan. Hanya dalam waktu 3-4 bulan saja, bekas perbaikan ini kembali menjadi kubangan lumpur ketika hujan mengguyuri. Karena itu, perlu ditinjau kembali kualitas jalan yang perbaiki itu. Kedua, pemilik toko wajib mempunyai tempat parkir khusus. Pemerintah kota kupang perlu membuat regulasi khusus bagi para pemilik toko yang sebagian besar tidak mempunyai tempat parkir. Ini menjadi penting agar pelanggan toko tidak memarkirkan kendaraannya di badan jalan yang membuat kemacetan. Mungkin hal ini, kelihatan sulit karena tidak ada lahan kosong, tetapi salah satu solusinya adalah pemilik toko gunakan sebagian dari lantai dasar (basement) sebagai tempat parkir. Karena tidak mungkin menggeser bangunan. Ketiga, tertibkan parkir liar. Ini membutuhkan komitmen dari aparat kepolisian atau dinas perhubungan untuk menertibkan parkir liar dengan menegakkan aturan setegak-tegaknya. Bila perlu pemerintah membuat regulasi khusus tentang ini. Keempat, terapkan jalur satu arah. Ini perlu kerja keras dari pemerintah untuk merumuskan kebijakan dan menetapkan solusinya. Dan tidak ada yang tidak bisa kalau memang pemerintah mempunyai kemitmen. Kelima, kesadaran pengguna jalan untuk menaati aturan lalu lintas. Setelah semua langkah di atas dilakukan, hal yang paling penting adalah adanya kesadaran para pengguna jalan untuk menaati aturan yang berlaku. Sebaik-baiknya sebuah aturan, tidak akan ada artinya tanpa imlpentasi, dan implementasi itu bersinggungan dengan dukungan masyarakat sasaran, dukungan ini erat hubungannya dengan kesadaran masyarakat itu sendiri untuk menjalankan aturan.
Karena itu, pemerintah kota Kupang bahkan Pemerintah Propinsi perlu mengantisipasi masalah ini sejak dini, agar tidak mencapai keparahan seperti Kota Jakarta yang membuat pusing pemerintah selama lebih dari tujuh turunan. Sebab alangkah mulianya usaha mencegah daripada mengobati.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel