ARTIKEL ISU KRISIS NASIONALISME DAN PLURALISME AGAMA


KRISIS NASIONALISME
Konsep nasionalisme
Nasionalisme adalah kesadaran keanggotaan dalam suatu bangsa yang secara potensial atau actual bersama-sama mencapai, mempertahankan dan mengabadikan identitas, integritas, kemakmuran dan kekuatan bangsa itu. Nasionalisme juga dapat dikatakan sebagai paham untuk mencintai bangsa dan Negara sendiri yang disebut dengan semangat kebangsaan.
Krisis nasionalisme
Pemberontakan hingga perpecahan yang terjadi sejak awal kemerdekaan bangsa Indonesia hingga kini baik karena perbedaan suku, agama, ras dan golongan bahkan ideology, seperti DI/TII Jawa Tengah, Jawa Barat, Aceh, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, pemberontakan di daerah seperti, APRA, ANDI AZIS, RMS, PRRI/PERMESTA, OPM, Pemberontakan Timor Leste yang akhirnya terlepas dari NKRI merupakan pangkal soalnya adalah krisis nasionalisme yang melanda bangsa ini. Pada hal sesungguhnya di tengah-tengah dunia yang semakin mengglobal di mana batas-batas negara-bangsa melebur nasionalisme tetaplah penting, terutama untuk mempererat dan mempertegas kohesi sosial, cita-cita politik, sekaligus mengkonsolidasikan “mimpi bersama”.
Sebagaimana dijelaskan di atas bahwa nasionalisme tidak hanya berkaitan dengan batas-batas negara (batas fisik maupun psikis). Nasionalisme terletak pada soal rasa, menyentuh ranah psikologis, alam bawah sadar, ego. Justeru bermula dari “rasa kebangsaan” itu timbul kepekaan, keperihatinan, serta tanggung jawab bersama senasib sepenanggungan. Di sinilah pentingnya membangun “rasa bersama” itu.
Sekarang ini, rasa kebangsaan itu sedikit demi sedikit mulai memudar. Kita tidak lagi mengenal identitas dan karakteristik kebudayaan kita yang membentuk sekaligus mengikat kita. Justeru kita mulai curiga terhadap sesama kita, saling berebut dan memangsa antara satu dengan lainnya. Kekerasan agama muncul di mana-mana, korupsi merajalela, ketidakadilan menjadi tontonan biasa. Padahal, sejak dulu kita adalah bangsa yang memiliki banyak identitas kebangsaan (heterogen), solidaritas sosial yang kuat, gotong royong, dan saling membantu. Dan semuanya runtuh diakibatkan krisis nasionalisme di mana semuanya bermuara dari hilangnya “rasa kebangsaan”.
Jadi, krisis nasionalisme itu tidak hanya ditandai oleh hilangnya kecintaan terhadap negeri sendiri yang menyebabkan merangseknya produk dan kebudayaan luar yang dikonsumsi secara mentah-mentah oleh masyarakat kita. Krisis nasionalisme yang paling akut adalah hilangnya identitas dan solidaritas bersama atas nama bangsa dan Negara.
Dalam kacamata Ilmu Pemerintahan, gerakan massa yang brutal dan anarkis merupakan gangguan terhadap legitimasi kekuasaan yang ada. Secara politik, ketika massa secara terang-terangan melakukan pelanggaran hukum, dan melecehkan harga diri sesama warga negara, pada saat itu sesungguhnya tidak ada lagi nasionalisme dan demokrasi dalam benak mereka. Adanya gejala pengingkaran terhadap komitmen kebangsaan dan demokrasi itu, walaupun hanya berlangsung beberapa jam, misalnya, harus diwaspadai secara cermat, karena merupakan penyimpangan dari moralitas kemerdekaan.  Kalau keadaan serupa ini berlangsung dalam jangka yang lama dan terjadi di banyak tempat, hal ini dapat berubah menjadi sumber krisis yang besar, yang bukan tidak mungkin akan merusak keberadaan Indonesia sebagai bangsa.
Sikap Kita
Dihadapkan pada krisis masalah bangsa seperti yang diuraikan diatas, Bangsa Indonesia ditantang untuk merefleksikan kembali komitmen awalnya membentuk dan memperjuangkan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Para pemimpin seharusnya berusaha memahami hakekat masalah yang dihadapi, menemukan berbagai alternatif solusi yang mungkin dikembangkan untuk menjawab dan menyelesaikannya, memobilisir dukungan bagi keberhasilan dari solusi-solusi yang dipilih serta melakukan pemertaan pembangunan di seluruh nusantara agar tidak timbul kecemburuan social yang berujung pada perpecahan atau pemberontakan.
PLURALISME AGAMA
Pluralisme agama adalah paham yang mengajarkan bahwa semua agama itu sama. Karena itu, kebenaran setiap agama adalah relatif. Setiap pemeluk agama tidak boleh mengklaim bahwa hanya agamanya saja yang benar, agama lain adalah salah. Pluralisme juga mengajarkan bahwa semua pemeluk agama akan masuk dan hidup dan berdampingan di surga.
Pluralisme Agama berasumsi bahwa semua agama adalah jalan yang sama-sama sah menuju Tuhan yang sama. Menurut penganut paham ini, semua agama (bisa jadi) punya jalan yang berbeda-beda tetapi menuju Tuhan yang sama. Mereka menyataka bahwa agama adalah persepsi manusia yang relatif terhadap Tuhan yang mutlak. Karena kerelatifannya itu, maka setiap pemeluk agama tidak boleh mengklaim atau meyakini bahwa agamanya lebih benar atau lebih baik dari agama lain? atau mengklaim bahwa hanya agamanya sendiri yang benar.
Mereka kaum pluralis, pluralisme agama tidak sekadar mengakui keberadaan berbagai agama. Bahkan lebih jauh mereka menganggap bahwa semua agama mewakili kebenaran yang sama, meskipun ‘porsinya’ tidak sama. Semuanya menjanjikan keselamatan dan kebahagiaan, walaupun ‘resepnya’ berbeda-beda. Dengan kata lain, menurut mereka, ada banyak jalan menuju Tuhan.
Di Indonesia terdapat kurang lebih enam agama yang diakui yakni Islam, Kristen Protestan, Kristen Katholik, Hindu, Budha dan Kong Hucou. Oleh sebab itu, dari perbedaan itu sering kali memicu terjadinya konflik. Seperti konflik antara agama Kristen dengan Islam di Kupang tahun 1999/1998. Hal ini terjadi karena adanya rasa fanatisme beragama dalam diri satu pihak dan tidak mengakui eksistensi agama lain.
KEMBALI KE “PANCASILA” (Bhineka Tunggal Ika)
Pancasila adalah dasar Negara dan pandangan hidup serta sumber dari segala sumber hukum sekaligus merupakan kepribadian bangsa Indonesia. Oleh karena itu pancasila haruslah menjadi dasar dari sikap dan perilaku dalam kehidupan bebangsa dan bernegara. Penghayatan dan pengamalan pancasila adalah mutlak bagi kita sebagai warga Negara yang mengakui perbedaan. Semboyan Bhineka Tunggal Ika” sesungguhnya menjadi hukum yang terutama dan pertama dalam memaknai perbedaan dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sekaligus mencerminkan masyarakat yang berkepribadian baik, prikemanusiaan, mengakui harkat dan martabat orang lain.
Sila ketiga, “persatuan Indonesia”, secara explicit menginstruksikan harus ada persatuan,  mempunyai makna sebagai berikut:
1)      Mampu menempatkan persatuan dan kesatuan serta kepentingan dan keselamatan bangsa dan Negara sebagai kepentingan di atas kepentingan pribadi atau golongan.
2)      Sanggup dan rela berkorban unutk kepentingan Negara dan bangsa apabila dibutuhkan
3)      Mengembangkan rasa cinta tanah air (nasionalisme)
4)      Mengembangkan persatuan Indonesia atas dasar Bhineka Tunggal Ika
5)      Memajukan pergaulan demi persatuan dan kesatuan bangsa.
Oleh sebab itu, mari kita amalkan pancasila sebagai pedoman dalam bersikap dan berperilaku dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, dan memaknai perbedaan sebagai kekuatan bukan sebagai gejala perpecahan.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel