ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG YANG MEMPENGARUHI KESEJAHTERAAN KELUARGA DI KABUPATEN SABU RAIJUA PROPINSI NUSA TENGGARA TIMUR

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANGYANG MEMPENGARUHI KESEJAHTERAAN KELUARGA DI KABUPATEN SABU RAIJUA 

BAB I
Pendahuluan
1.      Latar Belakang
Isu Kesejahteraan kini adalah isu yang sangat krusial di negeri ini. Kesejahteraan bertalian erat dengan pembangunan, baik di level nasional maupun daerah. Pembangunan nasional pada hakekatnya bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga dan masyarakat. Sejak terjadi krisis ekonomi tahun 1998 berbagai program peningkatan kesejahteraan telah dilakukan, namun belum dapat secara nyata meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Tingkat kesejahteraan mencerminkan kualitas hidup dari sebuah keluarga (Ancok 1990). keluarga dengan tingkat kesejahteraan yang lebih tinggi berarti memiliki kualitas hidup yang lebih baik, sehingga pada akhirnya keluarga tersebut mampu untuk menciptakan kondisi yang lebih baik untuk bisa meningkatkan kesejahteraan mereka. Tingkat kesejahteraan beranekaragam, tergantung pendekatan yang digunakan dalam mengartikan kesejahteraan. Menurut Undang-undang No 11 Tahun 2009, Kesejahteraan Sosial adalah kondisi terpenuhinya kebutuhan material, spiritual, dan sosial warga negara agar dapat hidup layak dan mampu mengembangkan diri, sehingga dapat melaksanakan fungsi sosialnya. Permasalahan kesejahteraan sosial yang berkembang dewasa ini menunjukkan bahwa ada warga negara yang belum terpenuhi hak atas kebutuhan dasarnya secara layak karena belum memperoleh pelayanan sosial dari negara. Akibatnya, masih ada warga negara yang mengalami hambatan pelaksanaan fungsi sosial sehingga tidak dapat menjalani kehidupan secara layak dan bermartabat. Nasikun (1993) merumuskan sebagai padanan makna dari konsep martabat manusia yang dapat dilihat dari empat indicator yakni rasa aman (security), Kesejahteraan (welfare), Kebebasan (freedom),  dan jati diri (Identity).

BACA KUMPULAN TULISAN TENTANG BUDAYA SABU >>> DISINI


Biro Pusat Statistik Indonesia (2000) menerangkan bahwa untuk melihat tingkat kesejahteraan rumah tangga suatu wilayah beberapa indicator yang menjadi  ukuruan, antara lain:
  • Tingkat pendapatan keluarga.
  • Komposisi pengeluaran rumah tangga dengan membandingkan pengeluaran untuk pangan dengan non-pangan.
  • ingkat pendidikan keluarga.
  • Tingkat kesehatan keluarga, dan
  • Kondisi perumahan serta fasilitas yang dimiliki dalam rumah tangga.
Sementara itu. Kolle (1974) dalam Bintarto (1989), merumuskan kesejahteraan dapat diukur dari beberapa aspek kehidupan:
  • Dengan melihat kualitas hidup dari segi materi, seperti kualitas rumah, bahan pangan dan sebagainya
  • Dengan melihat kualitas hidup dari segi fisik, seperti kesehatan tubuh, lingkungan alam, dan sebagainya
  • Dengan melihat kualitas hidup dari segi mental, seperti fasilitas pendidikan, lingkungan budaya, dan sebagainya
  • Dengan melihat kualitas hidup dari segi spiritual, seperti moral, etika, keserasian penyesuaian, dan sebagainya.
Di sisi lain, Drewnoski (1974) dalam Bintarto (1989), menerangkan kesejahteraan ada tiga aspek yaitu tingkat perkembangan fisik (somatic status), seperti nutrisi, kesehatan, harapan hidup, dan sebagianya, tingkat mentalnya, (mental/educational status) seperti pendidikan, pekerjaan, dan sebagainya, integrasi dan kedudukan social (social status). Todaro (2003) mengemukakan bahwa kesejahteraan masyarakat menengah kebawah dapat direpresentasikan dari tingkat hidup masyarakat. Tingkat hidup masyarakat ditandai dengan terentaskannya dari kemiskinan, tingkat kesehatan yang lebih baik, perolehan tingkat pendidikan yang lebih tinggi, dan tingkat produktivitas masyarakat.
2.      Rumusan masalah
Dengan mendasari diri pada latar belakang yang dikemukakan di atas, maka yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
“Faktor apa saja yang mempengaruhi Kesejahteraan Keluarga di Kabupaten Sabu Raijua dan bagaimana upaya pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan keluarga di Kabupaten Sabu Raijua?”.


3. Tujuan Penelitian
a) Tujuan umum
Untuk mengetahui tingkat kesejahteraan keluarga di Kabupaten Sabu Raijua dan faktor-faktor yang mempengaruhi kesejahteraan keluarga.
b) Tujuan khusus 

Tujuan khusus dari penelitian ini rneliputi:
  1. Mengetahui upaya-upaya pemerintah Kabupaten Sabu Raijua dalam meningkatkan kesejahteraan keluarga di kabuapaten Sabu Raijua
  2. Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat kesejahteraan keluarga di Kabupaten Sabu Raijua.
  3. Merumuskan rekomendasi kebijakan dalam rangka peningkatan kesejahteraan keluarga untuk Pemerintah Kabupaten Sabu Raijua.


4.      Manfaat penelitian
Penelitian ini diharapkan menghasilkan inforrnasi yang berkaitan dengan pengukuran tingkat kesejahteraan dan faktor-faktor yang yang mempengaruhi tingkat kesejahteraan keluarga yang bemanfaat sebagai:
  1. Rekomendasi bagi pemerintah Kabupaten Sabu Raijua dalam menyusun program-program pembangunan khususnya program-program intervensi pengentasan kemiskinan
  2. Masukan bagi masyarakat Sabu Raijua dalam rangka meningkatkan kesejahteraan keluarga.
  3. Sumber informasi bagi peneliti dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan pemahaman tentang kemiskinan dan kesejahteraan keluarga.

BACA JUGA:


BAB II
PEMBAHASAN

1.      Konsep Kesejahteraan

Badan Pusat Statistik (BPS) mengartikan kesejahteraan sebagai kemampuan keluarga untuk memenuhi kebutuhan hidup minimumnya. Keluarga yang tidak sejahtera (miskin) apabila tidak mampu memenuhi kebutuhan minimumnya. Sementara BKKBN mengartikan kesejahteraan sebagai kemampuan keluarga ntuk hidup dan berfunggsi dalam masyarakat seperti memberikan sumbangan bagi kegiatan sosial asyarakat dalam bentuk materi. Karena itu masyarakat dengan tingkat kesejahteraan yang lebih tinggi berarti memiliki kualitas hidup yang lebih baik, sehingga pada akhirnya keluarga tersebut mampu untuk menciptakan kondisi yang lebih baik untuk bisa meningkatkan kesejahteraan mereka. Tingkat kesejahteraan beranekaragam, tergantung pendekatan yang digunakan dalam mengartikan kesejahteraan.

2.      Pengertian Keluarga

Keluarga (bahasa Sanskerta: "kulawarga"; "ras" dan "warga" yang berarti "anggota")  adalah lingkungan yang terdapat beberapa orang yang masih memiliki hubungan darah. Keluarga sebagai kelompok sosial terdiri dari sejumlah individu, memiliki hubungan antar individu, terdapat ikatan, kewajiban, tanggung jawab di antara individu tersebut. Pengertian Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang yang terkumpul dan tinggal di suatu tempat di bawah suatu atap dalam keadaan saling ketergantungan. Menurut Salvicion dan Celis (1998) di dalam keluarga terdapat dua atau lebih dari dua pribadi yang tergabung karena hubungan darah, hubungan perkawinan atau pengangkatan, di hidupnya dalam satu rumah tangga, berinteraksi satu sama lain dan di dalam perannya masing-masing dan menciptakan serta mempertahankan suatu kebudayaan.

3.      Indikator Keluarga Sejahtera

Ada beberapa pendapat tentang pengertian kesejahteraan, antara lain:
“Kesejahteraan adalah hal atau keadaan sejahtera, aman, selamat, dan tentram”. (Depdiknas, 2001:1011). “Keluarga Sejahtera adalah Keluarga yang dibentuk berdasarkan perkawinan yang sah, mampu memenuhi kebutuhan hidup spiritual dan materi yang layak, bertaqwa kepada Tuhan Yang /maha Esa, memiliki hubungan yang selaras, serasi, dan seimbang antar anggota dan antar keluarga dengan masyarakat dan lingkungan”. (BKKBN,1994:5). Karena itu, Kesejahteraan keluarga tidak hanya menyangkut kemakmuran saja, melainkan juga harus secara keseluruhan sesuai dengan ketentraman yang berarti dengan kemampuan itulah dapat menuju keselamatan dan ketentraman hidup.

4.      Tahapan-tahapan keluarga Sejahtera

1) Keluarga pra sejahtera

Yaitu keluarga yang belum dapat memenuhi kebutuhan dasarnya (basic need) secara minimal, seperti kebutuhan akan spiritual, pangan, sandang, papan, kesehatan dan KB.
  • Melaksanakan ibadah menurut agama oleh masing-masing anggota keluarga
  • Pada umunya seluruh anggota keluarga, makan dua kali atau lebih dalam sehari.
  • Seluruh anggota keluarga mempunyai pakaian berbeda di rumah, bekerja, sekolah atau berpergian.
  • Bagian yang terluas dari lantai bukan dari tanah.
  • Bila anak sakit dan atau pasangan usia subur ingin ber KB dibawa ke sasaran kesehatan.

2) Keluarga Sejahtera I


Yaitu keluarga yang telah dapat memenuhi kebutuhnan dasarnya secara minimal tetapi belum dapat memenuhi kebutuhan sosial psikologinya seperti kebutuhan akan pendidikan, KB, interaksi lingkungan tempat tinggal dan trasportasi. Pada keluarga sejahtera I kebutuhan telah terpenuhi namun kebutuhan sosial psikologi belum terpenuhi yaitu:

  • Anggota keluarga melaksanakan ibadah secara teratur.
  • Paling kurang sekali seminggu, keluarga menyadiakan daging, ikan atau telur.
  • Seluruh anggota keluarga memperoleh paling kurang 1 stel pakaian baru pertahun
  • Luas lantai rumah paling kurang 8 meter persegi untuk tiap pengguna rumah
  • Seluruh anggota keluarga dalam 3 bulan terakhir dalam kedaan sehat
  • Paling kurang satu anggota 15 tahun keatas, penghasilan tetap.
  • Seluruh anggota kelurga yang berumur 10-16 tahun bisa baca tulis huruf latin.
  • Seluruh anak berusia 5-15 tahun bersekolah pada saat ini
  • Bila anak hidup 2 atau lebih, keluarga pasang yang usia subur memakai kontrasepsi (kecuali sedang hamil)

3) Keluarga Sejahtera II


Yaitu keluarga disamping telah dapat memenuhi kebutuhan dasasrnya, juga telah dapat memenuhi kebutuhan pengembangannya seperti kebutuhan untuk menabung dan memperoleh informasi.

  • Pada keluarga sejahtera II kebutuhan fisik dan sosial psikologis telah terpenuhi namun kebutuhan pengembangan belum yaitu:
  • Mempunyai upaya untuk meningkatkan agama.
  • Sebagian dari penghasilan dapat disisihkan untuk tabungan keluarga.
  • Biasanya makan bersama paling kurang sekali sehari dan kesempatan ini dapat dimanfaatkan untuk berkomunikasi antar anggota keluarga.
  • Ikut serta dalam kegiatan masyarakat dilingkungan keluarga.
  • Mengadakan rekreasi bersama di luar rumah paling kurang 1 kali perbulan.
  • Dapat memperoleh berita dan surat kabar, radio, televisi atau majalah.
  • Anggota keluarga mampu menggunakan sarana trasportasi sesuai kondisi daerah.

4) Keluarga Sejahtera III

Yaitu keluarga yang telah dapat memenuhi seluruh kebutuhan dasar, kebutuhan sosial psikologis dan perkembangan keluarganya, tetapi belum dapat memberikan sumbangan yang teratur bagi masyarakat seperti sumbangan materi dan berperan aktif dalam kegiatan kemasyarakatan.

Pada keluarga sejahtera III kebutuhan fisik, sosial psikologis dan pengembangan telah terpenuhi namun kepedulian belum yaitu:
ü  Secara teratur atau pada waktu tertentu dengan sukarela memberikan sumbangan bagi kegiatan sosial/masyarakat dalam bentuk material.
ü  Kepala keluarga atau anggota keluarga aktif sebagai pengurus perkumpulan atau yayasan atau instansi masyarakat. (BKKBN,1994:21-23).
ü  Kesejahteraan pada hakekatnya dapat terpenuhinya kebutuhan (pangan, sandang, dan papan) yang harus dipenuhi dengan kekayaan atau pendapatan yang dimiliki barulah dikatakan makmur dan sejahtera

5) Keluarga Sejahtera Tahap III Plus

Keluarga yang dapat memenuhi kriteria diatas dan dapat pula memenuhi kriteria-kriteria pengembangan keluarganya yaitu:
  • Secara teratur atau pada waktu tertentu dengan sukarela memberikan sumbangan bagi kegiatan sosial masyarakat dalam bentuk materiil.
  • Kepala Keluarga atau anggota keluarga aktif sebagai pengurus perkumpulan/yayasan/institusi masyarakat.

6) Keluarga Miskin

adalah keluarga Pra Sejahtera alasan ekonomi dan KS - I karena alasan ekonomi tidak dapat memenuhi salah satu atau lebih indikator yang meliputi :
ü  Paling kurang sekali seminggu keluarga makan daging/ikan/telor.
ü  Setahun terakhir seluruh anggota keluarga memperoleh paling kurang satu stel pakaian baru.
ü  Luas lantai rumah paling kurang 8 M2 untuk tiap penghuni.

7) Keluarga miskin sekali

Yaitu keluarga Pra Sejahtera alasan ekonomi dan KS - I karena alasan ekonomi tidak dapat memenuhi salah satu atau lebih indikator yang meliputi :
ü  Pada umumnya seluruh anggota keluarga makan 2 kali sehari atau lebih.
ü  Anggota keluarga memiliki pakaian berbeda untuk dirumah, bekerja/sekolah dan bepergian.
ü  Bagian lantai yang terluas bukan dari tanah.

BACA JUGA:


5.      Faktor-Faktor Universal Yang Mempengaruhi Kesejahteraan Keluargaa.      Faktor intern keluarga

a)      Jumlah anggota keluarga

Pada zaman seperti sekarang ini tuntutan keluarga semakin meningkat tidak hanya cukup dengan kebutuhan primer (sandang, pangan, papan, pendidikan, dan saran pendidikan) tetapi kebutuhan lainya seperti hiburan, rekreasi, sarana ibadah, saran untuk transportasi dan lingkungan yang serasi. Kebutuhan diatas akan lebih memungkinkan dapat terpenuhi jika jumlah anggota dalam keluarga sejumlah kecil.

b)      Tempat tinggal

Suasana tempat tinggal sangat mempengaruhi kesejahteraan keluarga. Keadaan tempat tinggal yang diatur sesuai dengan selera keindahan penghuninya, akan lebih menimbulkan suasana yang tenang dan mengembirakan serta menyejukan hati. Sebaliknya tempat tinggal yang tidak teratur, tidak jarang meninbulkan kebosanan untuk menempati. Kadang-kadang sering terjadi ketegangan antara anggota keluarga yang disebabkan kekacauan pikiran karena tidak memperoleh rasa nyaman dan tentram akibat tidak teraturnya sasaran dan keadaan tempat tinggal.

c)      Keadaan sosial ekonomi kelurga.

Untuk mendapatkan kesejahteraan keluarga alasan yang paling kuat adalah keadaan sosial dalam keluarga. Keadaan sosial dalam keluarga dapat dikatakan baik atau harmonis, bilamana ada hubungan yang baik dan benar-benar didasari ketulusan hati dan rasa kasih sayang antara anggota keluarga.manifestasi daripada hubungan yang benar-benar didasari ketulusan hati dan rasa penuh kasih sayang, nampak dengan adanya saling hormat, menghormati, toleransi, bantu-membantu dan saling mempercayai.

d)      Keadaan ekonomi keluarga.

Ekonomi dalam keluarga meliputi keuangan dan sumber-sumber yang dapat meningkatkan taraf hidup anggota kelurga makin terang pula cahaya kehidupan keluarga. (BKKBN, 1994 : 18-21). Jadi semakin banyak sumber-sumber keuangan/ pendapatan yang diterima, maka akan meningkatkan taraf hidup keluarga. Adapun sumber-sumber keuangan/ pendapatan dapat diperoleh dari menyewakan tanah, pekerjaan lain diluar berdagang, dsb.

b.      Faktor eksternal kesejahteraan keluarga

Kesejahteraan keluarga perlu dipelihara dan terus dikembangan terjadinya kegoncangan dan ketegangan jiwa diantara anggota keluarga perlu di hindarkan, karena hal ini dapat menggagu ketentraman dan kenyamanan kehidupan dan kesejahteraan keluarga.
Faktor yang dapat mengakibatkan kegoncangan jiwa dan ketentraman batin anggota keluarga yang datangnya dari luar lingkungan keluarga antara lain:

  • Faktor manusia yaitu, iri hati, dan fitnah, ancaman fisik, pelanggaran norma.
  • Faktor alam bahaya alam, kerusuhan dan berbagai macam virus penyakit.
  • Faktor ekonomi negara pendapatan tiap penduduk atau income perkapita rendah, inflasi. (BKKBN, 1994 : 18-21)
  • Faktor Nilai Hidup, yaitu Sesuatu yang dianggap palin penting dalam hidupnya
  • Nilai hidup merupakan “Konsepsi”,Artinya gambaran mental yang membedakan individual atau kelompok dalam rangka mencapai sesuatu yang diinginkan.
  • Faktor Tujuan Hidup yaitu sesuatu yang akan dicapai atau sesuatu yang diperjuangkan agar nilai yang merupakan patokan dapat tercapai dengan demikian tujuan hidup tidak terlepas dari nilai hidup.
  • Faktor Standar Hidup yaitu Tingkatan hidup yang merupakan suatu patokan yang ingin dicapai dalam memenuhi kebutuhan.


6.      Gambaran Umum Kondisi Daerah Kabupaten Sabu Raijua

1) Aspek Geografi dan Demografi

1)      Karakteristik Lokasi dan Wilayah
Kabupaten Sabu Raijua terdiri dari 3 pulau besar yaitu Pulau Sabu, Pulau Raijua dan Pulau Dana. Secara geografi Kabupaten Sabu Raijua terletak pada 122°1'2.421"-121°15'55.488" BT dan 10°50'11.745"-10°50'19.558"S LS. Batas geografis Kabupaten Sabu Raijua adalah sebagai berikut :
·         Sebelah Utara           :        Laut Sawu
·         Sebelah Selatan        :        Samudera Indonesia
·         Sebelah Barat           :        Laut Sawu/Sumba Timur
·         Sebelah Timur          :        Laut Sawu/Rote Ndao
Luas Kabupaten Sabu Raijua 460.84 Km2, yang terdiri dari 6 kecamatan dan 5 kelurahan dan 58 desa (lihat Tabel 2.1 dan Gambar 1).

Tabel 2.1 Pembagian Wilayah  Administrasi di Kabupaten Sabu Raijua
Tahun 2011
Faktor-faktor yang mempengaruhi kesejahteraan keluarga
Sumber : RTRW Kabupaten Sabu Raijua Tahun

Pada tabel 2.1 terlihat bahwa kecamatan terluas adalah Kecamatan Sabu Barat seluas          185,16 Km2 dengan jumlah desa terbanyak adalah 17 desa.

2)      Demografi
Jumlah penduduk Sabu Raijua pada tahun 2009 mencapai 91.870 Jiwa yang mayoritas bermukim di Kecamatan Sabu Barat. Rata-rata pertumbuhan di Kabupaten Sabu Raijua dari tahun 2000 hingga tahun 2009 sebesar 4,83 % (Lihat table 2.6).

Tabel 1.1
Jumlah Penduduk Sabu Raijua Tahun 2000, 2009.
faktor-faktor yang pengaruhi kesejahteraan keluarga

Sumber: Kabupaten Kupang Dalam Angka.

 *)  Sebelum dibentuk sebagai kecamatan tahun 2002, adalah bagian dari Kec. Sabu Timur.
Dari table terlihat bahwa tingkat pertumbuhan penduduk per tahun tertinggi antara 2000-2009 adalah di Sabu Timur sedangkan yang paling rendah terjadi di Hawu Mehara yaitu 3,95% per tahun.  Sabu Te-ngah adalah kecamatan yang baru terbentuk pada tahun 2002.

b)      Aspek Kesejahteraan Masyarakat
Aspek kesejahteraan masyarakat terdiri dari kesejahteraan dan pemerataan ekonomi, kesejahteraan sosial, serta seni budaya dan olahraga.
c)      Fokus Kesejahteraan dan Pemerataan Ekonomi
            Gambaran kondisi ekonomi suatu daerah dapat dilihat dari PDRB yang merupakan total nilai tambah dihasilkan oleh kegiatan-kegiatan sektor ekonomiditi suatu daerah. Pada tahun 2009 PDRB Kabupaten Sabu Raijua atas dasar harga berlaku sebesar 275,22 milyar rupiah, meningkat 13,78 % dari tahun sebelumnya yang bernilai 246,648 milyar rupiah. Sedangkan jika dibandingkan 2 tahun sebelumnya yakni tahun 2007, telah terjadi peningkatan nilai tambah sebesar 26,16 %. Sedangkan atas dasar harga konstan, nilai PDRB Kabupaten Sabu Raijua tahun 2009 mencapai 136,484 milyar rupiah atau meningkat sebesar 5,54 % dari tahun 2008, sedangkan dibandingkan tahun 2007 telah mengalami peningkatan 10,13 %. Meskipun secara total kegiatan yang dihasilkan oleh sektor ekonomi di Kabupaten Sabu Raijua belum mampu menyaingi kabupaten lainnya, namun secara makro telah terlihat perkembangan yang cukup signifikan. Pemekaran menjadi daerah otonomi baru merupakan salah satu stimulator aktifitas perekonomian di daerah ini sehingga nilai tambah aktivitas sektor-sektor ekonomi yang ada mengalami peningkatan.
Secara makro, Pendapatan perkapita yang dapat menggambarkan tingkat
kesejahteraan suatu wilayah yang merupakan hasil dari kegiatan ekonomi yang dilakukan masyarakat pada tahun 2009 mencapai 3,68 juta rupiah dan nilai ini meningkat 10,81% dari tahun sebelumnya yang hanya sebesar 7,93 % pada tahun 2008. Namun kondisi ini ironi dengan pertambahan prosentase penduduk miskin dari 84% pada tahun 2008 menjadi 87% di tahun 2009. Data tentang hal ini yang diterbitkan oleh BPS Kabupaten Kupang dapat dilihat dalam tabel berikut.

Tabel 1.2.
Jumlah Rumah Tangga Miskin di Kabupaten Sabu-RaijuaTahun 2012
pengertian kesejahteraan keluarga
Sumber: RPJMD Kab. Sabu Raijua

Tabel ini menunjukkan bahwa pada tahun 2005 terdapat keluarga miskin di Sabu-Raijua sebesar 14.374 rumahtangga dengan jumlah anggota keluarga sebesar 61.973 orang (kecuali Kecamatan Sabu Timur karena tidak ada data), atau rata-rata lebih dari empat orang per keluarga. Dari data yang ada, antara  tahun 2005 - 2008 angka kemiskinan di Sabu Raijua menurun sekitar 18,40% per tahun. Angka ini tidak mewakili Kecamatan, Hawu Mehara, Sabu Tengah, Sabu Liae dan Raijua karena ketiadaan data.
           Data tahun 2008 tersebut di atas menunjukkan bahwa keluarga miskin di Sabu Raijua berjumlah 26.201 jiwa. Ini berarti pada tahun 2008 masih terdapat 32,26% penduduk Sabu Raijua yang tergolong miskin (belum termasuk penduduk Kecamatan Hawu Mehara, Sabu Tengah, Sabu Liae dan Raijua). Dengan demikian maka program-program pembangunan ekonomi dalam jangka menengah 2011-2016 hendaknya diarahkan pada penciptaan lapangan kerja dan peningkatan pendapatan masyarakat untuk lebih cepat menurunkan jumlah keluarga miskin di kabupaten ini.
          Perkembangan indicator makro ekonomi Kabupaten Sabu Raijua dapat dilihat pada table berikut.
Tabel 1.3
Perkembangan Indikator makro Ekonomi kabupaten Sabu Raijua


indikator kesejahteraan keluarga

Sumber : Kabupaten Sabu Raijua dalam Angka Tahun 2011
Keterangan:
*   : Masih merupakan angka perkiraan
** : Angka sangat sementara

d)              Fokus Kesejahteraan Sosial
Kondisi sumber daya manusia di Kabupaten Sabu Raijua secara komposit digambarkan oleh Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Indeks ini merupakan indeks komposit dari aspek kesejahteraan ekonomi, pendidikan dan kesehatan. Sebagai kabupaten baru yang sedang membangun dengan berbagai keterbatasan IPM Kabupaten Sabu Raijua masih rendah dari IPM NTT yang tercapai untuk tahun yang sama.


BAB III
PENUTUP

1.      Kesimpulan
Kesejahteraan adalah kondisi terpenuhinya kebutuhan material, spiritual, dan sosial warga negara agar dapat hidup layak dan mampu mengembangkan diri, sehingga dapat melaksanakan fungsi sosialnya. Permasalahan kesejahteraan sosial yang berkembang dewasa ini menunjukkan bahwa ada warga negara yang belum terpenuhi hak atas kebutuhan dasarnya secara layak karena belum memperoleh pelayanan sosial dari negara.
Keluarga berarti lingkungan yang terdapat beberapa orang yang masih memiliki hubungan darah. Keluarga sebagai kelompok sosial terdiri dari sejumlah individu, memiliki hubungan antar individu, terdapat ikatan, kewajiban, tanggung jawab di antara individu tersebut. Pengertian Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang yang terkumpul dan tinggal di suatu tempat di bawah suatu atap dalam keadaan saling ketergantungan. Menurut Salvicion dan Celis (1998) di dalam keluarga terdapat dua atau lebih dari dua pribadi yang tergabung karena hubungan darah, hubungan perkawinan atau pengangkatan, di hidupnya dalam satu rumah tangga, berinteraksi satu sama lain dan di dalam perannya masing-masing dan menciptakan serta mempertahankan suatu kebudayaan. Jadi, Kesejahteraan adalah hal atau keadaan sejahtera, aman, selamat, dan tentram”.
Keluarga Sejahtera adalah Keluarga yang dibentuk berdasarkan perkawinan yang sah, mampu memenuhi kebutuhan hidup spiritual dan materi yang layak, bertaqwa kepada Tuhan Yang /maha Esa, memiliki hubungan yang selaras, serasi, dan seimbang antar anggota dan antar keluarga dengan masyarakat dan lingkungan”. Karena itu, Kesejahteraan keluarga tidak hanya menyangkut kemakmuran saja, melainkan juga harus secara keseluruhan sesuai dengan ketentraman yang berarti dengan kemampuan itulah dapat menuju keselamatan dan ketentraman hidup.
Keluarga dapat disebut keluarga sejahtera harus dilihat dari tahapan-tahapan yang meliputi, Keluarga pra sejahtera yaitu keluarga yang belum dapat memenuhi kebutuhan dasarnya (basic need) secara minimal, seperti kebutuhan akan spiritual, pangan, sandang, papan, kesehatan dan KB. Keluarga Sejahtera I Yaitu keluarga yang telah dapat memenuhi kebutuhnan dasarnya secara minimal tetapi belum dapat memenuhi kebutuhan sosial psikologinya seperti kebutuhan akan pendidikan, KB, interaksi lingkungan tempat tinggal dan trasportasi. Pada keluarga sejahtera I kebutuhan dasar telah terpenuhi namun kebutuhan sosial psikologi belum terpenuhi. Keluarga Sejahtera II Yaitu keluarga disamping telah dapat memenuhi kebutuhan dasasrnya, juga telah dapat memenuhi kebutuhan pengembangannya seperti kebutuhan untuk menabung dan memperoleh informasi. Keluarga Sejahtera III Yaitu keluarga yang telah dapat memenuhi seluruh kebutuhan dasar, kebutuhan sosial psikologis dan perkembangan keluarganya, tetapi belum dapat memberikan sumbangan yang teratur bagi masyarakat seperti sumbangan materi dan berperan aktif dalam kegiatan kemasyarakatan.



BACA KUMPULAN TULISAN TENTANG BUDAYA SABU >>> DISINI






________________________________________  
KONTRIBUTOR/PENULIS: Sdr. Elkana Goro Leba, MPA. Artikel ini disesuaikan dari berbagai sumber, Mohon maaf bila ada kesalahan pengutipan atau informasi yang kurang tepat karena "TIADA GADING YANG TIDAK RETAK". Terima kasih, karena sudah mampir. Salam!
JANGAN LUPA TINGGALKAN KOMENTAR DI BAWAH.
________________________________________   


Daftar Pustaka

Bintarto. 1989. Interaksi Desa-Kota dan Permasalahannya. Ghalia Indonesia. Jakarta.

Bintarto dan Surastopo Hadisumarno. 1979. Metode Analisa Geografi .LP3ES. Jakarta

Nasikun, Dr. 1996. Urbanisasi dan Kemiskinan di Dunia Ketiga. PT. Tiara
Wacana.Yogyakarta.

Peraturan Menteri Nomor: PER.25/MEN/IX/2009 tentang Tingkat Perkembangan
Permukiman Transmigrasi dan Kesejahteraan Transmigran.

Ibrahim, Hasan. 2007. Analisis Faktor-faktor yang Berhubungan Dengan Kesejahteraan
Keluarga di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur. Bogor: Institut Pertanian
Bogor
Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah Kabupaten Sabu Raijua Tahun 2008 – 2025

BPS Sabu Raijua. 2009. Indikator Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Sabu Raijua.

BPS Sabu Raijua. 2011. Sabu Raijua Dalam Angka. BPS Kabupaten Sabu Raijua

BPS. 2004. Indikator Kesejahteraan Rakyat (People Walfare Indicators). BPS. Jakarta

BKKBN. 1998. Opini Pembangunan Keluarga Sejahtera. Kantor Menteri Negara dan
Kependudukan/BKKBN Jakarta

Kabupaten Sabu Raijua


Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel